


KUDUS – Empat hari bertanding harus dilalui Faisal Rizki sebelum akhirnya berdiri di podium POPDA Jawa Tengah 2026 yang berlangsung di Kota Semarang pada 1–6 September 2026. Sebelum naik ring, petinju muda asal Kudus berusia 17 tahun itu bahkan harus memangkas berat badannya sekitar delapan kilogram, dari 62 kilogram menjadi 54 kilogram, agar bisa tampil di kelas Men’s Bantam 54 kilogram SMA/SMK.
Tiga pertandingan telah dilewati ketika Faisal memasuki partai final di GOR Jatidiri, Kota Semarang. Tenaganya mulai terkuras, sementara satu lawan terakhir dari Kabupaten Pati masih harus dihadapi untuk menentukan medali emas.
Duel berlangsung ketat. Kemenangan tipis 3-2 akhirnya membawa Faisal ke podium tertinggi, sekaligus memperbaiki pencapaiannya pada POPDA sebelumnya ketika ia meraih medali perunggu.

Jauh sebelum menghadapi lawan di atas ring, Faisal sudah menjalani pertarungan dengan berat badannya sendiri. Bobotnya yang berada di kisaran 62 kilogram harus turun sekitar delapan kilogram agar sesuai dengan kelas pertandingan yang diikutinya.
Target itu dikejar melalui latihan tambahan dan pengaturan pola makan yang lebih ketat. Bagi Faisal, keberhasilan mencapai berat 54 kilogram menjadi bagian penting dari persiapannya menuju POPDA.
“Alhamdulillah, senang ya, Mas. Karena telah bisa turun berat badan banyak, hasilnya memuaskan, alhamdulillah. Dari semula 62 kilo ke 54 kilo,” jelasnya.
Setelah berat badan tercapai, ritme latihan tetap tinggi. Menjelang POPDA, Faisal berlatih hingga tiga kali sehari pada pagi, siang, dan sore. Malam harinya masih diisi latihan kebugaran di tempat fitness.

Rutinitas itu dijalani enam hari dalam sepekan. Sekitar pukul 06.30 WIB, Faisal sudah memulai latihan hingga pukul 08.00 WIB. Pukul 09.00 WIB, ia berganti peran sebagai siswa dan mengikuti kegiatan sekolah. Sepulang sekolah, latihan fisik kembali menunggu.
Sebagai siswa kelas XII SMA 2 Bae Kudus, Faisal harus membagi waktunya antara kelas dan ring tinju. Jadwal yang padat itu menjadi kesehariannya menjelang pertandingan.

Rangkaian latihan tersebut diuji selama empat hari pertandingan di Semarang. Faisal harus melewati tiga lawan sebelum mendapat kesempatan memperebutkan medali emas.
Pada babak penyisihan, ia menghadapi petinju dari Purbalingga. Kemenangan membawanya ke delapan besar untuk bertemu wakil Kebumen. Setelah kembali menang, Faisal menghadapi atlet asal Sragen di semifinal.
Tiga pertandingan beruntun mulai menguras tenaganya. Saat memasuki final menghadapi petinju Kabupaten Pati, Faisal tidak lagi berada dalam kondisi fisik seperti pada hari pertama.
“Itu sudah empat hari pertandingan, badan sudah lemes, sudah capek, harus dipaksa kuat pas lawan final itu,” ujar Faisal di sela-sela latihannya di SMA NU Hasyim Asy’ari Kudus pada Rabu (23/9/2026).
Dalam kondisi tersebut, Faisal tak bisa hanya mengandalkan tenaga. Pelatihnya, Suwono, meminta ia bermain lebih taktis dengan menjaga jarak melalui pola out-boxer. Kombinasi pukulan 1-2 menjadi salah satu senjata yang digunakan untuk menghadapi lawan.
Duel berlangsung ketat hingga keputusan akhir diberikan. Skor 3-2 memastikan Faisal keluar sebagai juara kelas Men’s Bantam 54 kilogram SMA/SMK.

Tinju awalnya bukan olahraga yang sejak kecil direncanakan Faisal untuk ditekuni. Ketertarikannya baru muncul ketika ia duduk di kelas IX SMP 1 Kaliwungu. Saat itu, Faisal melihat tinju sebagai salah satu cabang olahraga yang belum banyak diminati, sehingga menurutnya masih terbuka kesempatan untuk mengejar prestasi.
Ia kemudian mendaftarkan diri mengikuti latihan tinju. Selain ingin berprestasi, Faisal memiliki tujuan lain. Sertifikat prestasi olahraga yang diperolehnya diharapkan bisa menjadi bekal untuk melanjutkan pendidikan melalui jalur prestasi.
Upaya tersebut akhirnya membawanya masuk ke sekolah negeri melalui kelas olahraga yang memberikan dukungan bagi siswa yang juga menjalani pembinaan sebagai atlet. Jadwal tersebut membuat Faisal bisa tetap berlatih pada pagi hari sebelum mengikuti kegiatan belajar di kelas.
Dari sana, Faisal bergabung dengan Pertina Kudus dan mulai mengenal teknik tinju sekaligus mengikuti pertandingan. Ring demi ring yang dilaluinya perlahan menambah pengalaman bertanding.
Salah satunya POPDA Jawa Tengah. Pada keikutsertaan sebelumnya, Faisal harus puas dengan medali perunggu. Pengalaman tersebut kemudian menjadi bekal ketika ia kembali menghadapi kompetisi yang sama pada 2026.
Bagi Faisal, prestasi olahraga juga berkaitan dengan rencana pendidikannya ke depan. Ia berharap bisa melanjutkan kuliah melalui jalur beasiswa prestasi olahraga sehingga dapat meringankan beban orang tuanya.
Harapan itu membuat Faisal tidak ingin berhenti pada satu medali. Ia masih ingin terus mengembangkan kemampuan di atas ring sambil tetap menyelesaikan pendidikan.
Pelatih Pertina Kudus, Suwono, melihat Faisal memiliki modal fisik, kedisiplinan, dan keberanian untuk berkembang sebagai petinju. Pengalaman bertanding juga membuatnya lebih siap menghadapi lawan.
“Faisal dia rajin, fisik selalu datang terus, dan nyalinya karena sudah berpengalaman tidak ada rasa takut. Maju terus memukul lawan. Tahun lalu dia juara tiga, dan berambisi tahun ini harus juara satu, dan sekarang sudah terpenuhi,” kata Suwono.
Ambisi memperbaiki hasil tahun sebelumnya akhirnya terbayar. Dari perunggu, Faisal naik ke podium tertinggi dengan medali emas.
Di luar jadwal latihan, keseharian Faisal tidak selalu diisi dengan tinju. Ia masih menyukai sepak bola sebagai salah satu hobinya. Ketika tidak berlatih, Faisal biasanya mengisi waktu dengan berlari santai di kawasan Oasis.
Untuk urusan nongkrong bersama teman, Faisal mengaku jarang melakukannya. Jika sedang berkumpul, ia biasanya memilih kedai kopi atau warung kopi sederhana. Sementara untuk makanan, nasi goreng menjadi salah satu menu favoritnya.
Keseharian sederhana itu menjadi bagian dari hidup Faisal di luar ring. Di satu sisi, ia menjalani rutinitas sebagai pelajar dan atlet dengan jadwal latihan yang padat. Di sisi lain, ia tetap memiliki aktivitas dan kesukaan yang dekat dengan keseharian remaja seusianya.

Di luar ring, Faisal tumbuh dalam keluarga sederhana di RT 3 RW 5, Desa Gribig, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus. Ia merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara, putra pasangan Mukorobbin (52) dan Asmiah (50).
Ayahnya sehari-hari bekerja sebagai kuli angkut barang di sebuah toko bangunan di wilayah Kecamatan Kaliwungu. Sementara ibunya bekerja sebagai buruh pabrik di PT Djarum Kudus.
Kedua orang tuanya yang bekerja membuat Faisal terbiasa mengatur kesehariannya sendiri, termasuk membagi waktu antara sekolah dan latihan. Bagi Mukorobbin, aktivitas olahraga yang dijalani anaknya tidak boleh membuat pendidikan terabaikan.

“Faisal itu memang sudah mandiri bisa mengatur jadwal sekolah dan latihan. Karena orang tuanya bekerja semua, saya selalu ingatkan jangan sampai ketinggalan sekolahnya dan kejar prestasi,” ungkap Mukorobbin.
Pilihan Faisal menekuni tinju sempat membuat Mukorobbin khawatir. Ia memahami olahraga tersebut memiliki tuntutan fisik yang keras dan mengharuskan anaknya berhadapan langsung dengan lawan di atas ring.
Namun, kekhawatiran itu perlahan berkurang setelah melihat perkembangan Faisal. Latihan membuat kesehariannya semakin disiplin, sementara kewajibannya sebagai pelajar tetap dijalankan.
Mukorobbin dan Asmiah pun tetap memberi ruang bagi Faisal untuk menekuni pilihannya. Di tengah kesibukan kedua orang tuanya bekerja, Faisal menjalani rutinitas sebagai pelajar sekaligus atlet, membagi waktu antara sekolah, latihan, dan pertandingan.
Medali emas POPDA Jateng 2026 menjadi salah satu pijakan dalam perjalanan Faisal di dunia tinju. Dari level pelajar, ia masih menyimpan sejumlah target untuk melangkah ke jenjang yang lebih tinggi.
Faisal ingin mendapat kesempatan mewakili Jawa Tengah di Pekan Olahraga Pelajar Nasional (POPNAS) dan tampil di Porprov. Dalam jangka panjang, ia ingin menekuni tinju hingga level profesional.
Pendidikan juga tetap masuk dalam rencananya. Selepas SMA, Faisal ingin melanjutkan kuliah di bidang ilmu keolahragaan sambil mempertahankan aktivitasnya sebagai atlet.
Target-target itu berjalan bersama rutinitas yang telah ia bangun sebagai pelajar dan petinju. Sekolah dan latihan tetap menjadi bagian dari kesehariannya untuk mempersiapkan diri menghadapi pertandingan berikutnya.
Bagi Faisal, medali emas POPDA bukan penutup perjalanan. Dari ruang kelas dan ruang latihan, ia masih menyiapkan langkah untuk naik ke ring-ring berikutnya. (JMY/mainkekudus)





