


KUDUS – Di tepi lapangan, Hanna Levina sesekali menghentikan latihan untuk memberikan arahan kepada pemain. Ia memperhatikan gerakan, membenahi teknik yang kurang tepat, lalu kembali membiarkan latihan berlanjut. Perempuan 27 tahun asal Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, saat ini menjadi pelatih tenis di Sweet Swing Tennis dan British School Jakarta.
Sebelum menekuni kepelatihan, Hanna lebih dulu menjalani perjalanan sebagai atlet. Ia mengenal tenis sejak usia lima tahun, tumbuh melalui latihan dan berbagai kompetisi, hingga mendapat kesempatan bertanding di Korea pada 2016. Setelah berhenti dari kompetisi pada 2019, pengalaman sebagai pemain kemudian membawanya memilih jalur kepelatihan.

Perjalanan tersebut tidak hanya berlangsung di Kudus. Hanna sempat melatih di Singapura pada 2025 sebelum melanjutkan kiprahnya di British School Jakarta. Dari setiap lingkungan yang dijalaninya, ia membawa pengalaman sebagai pemain sekaligus terus mengembangkan pendekatannya sebagai pelatih.
Sweet Swing Tennis menjadi salah satu ruang Hanna untuk berbagi pengalaman dan mendampingi pemain di Kudus. Sebagai Founder sekaligus Head Coach Sweet Swing Tennis, Hanna membuka ruang bagi masyarakat yang ingin mengenal dan belajar tenis, termasuk mereka yang baru memulai dari tahap dasar. Pengalaman yang diperolehnya selama menjalani perjalanan sebagai atlet dan pelatih kemudian ia bawa dalam proses latihan bersama para pemain.

Hanna mengenal tenis ketika berusia lima tahun. Saat itu, orang tuanya mengajaknya mencoba olahraga tersebut karena terdapat lapangan di dekat rumah.
“Waktu umur lima tahun, orang tua saya menyuruh coba tenis karena kebetulan ada lapangan dekat rumah. Mungkin mereka ingin saya punya kegiatan setelah sekolah yang positif,” tutur Hanna.

Sejak itu, tenis menjadi bagian dari rutinitasnya. Setelah sekolah, Hanna menghabiskan waktu hingga sore untuk berlatih. Ia kemudian tetap mengikuti les agar pendidikan sekolahnya berjalan beriringan dengan aktivitas sebagai atlet.
Hanna menempuh pendidikan dari TK hingga SMP di sekolah Masehi Kudus. Ketika memasuki SMA, ia memilih homeschooling di Jakarta agar memiliki waktu yang lebih leluasa untuk menjalani latihan tenis.
Pada masa tersebut, fokus Hanna bukan hanya berlatih, tetapi juga mengikuti kompetisi. Ia bertanding di berbagai kejuaraan dan mulai berhadapan dengan pemain dari lingkungan tenis yang lebih luas.

Salah satu pengalaman yang membekas terjadi pada 2016. Hanna mendapat wildcard dari penyelenggara di Korea untuk mengikuti turnamen yang disebutnya sebagai WTA Korea Open.
Ia harus mengakhiri langkah pada babak pertama. Namun, pertandingan tersebut memberinya kesempatan melihat secara langsung bagaimana pemain dari negara lain menjalani latihan dan mempersiapkan diri menghadapi kompetisi.
“Saya melihat bagaimana pemain-pemain luar itu latihan. Mereka benar-benar effort-nya seperti apa. Dari situ saya merasa, ternyata apa yang selama ini saya lakukan di Indonesia itu masih belum ada apa-apanya dibandingkan mereka,” kata Hanna.
Pengalaman itu membuat Hanna melihat perjalanan sebagai atlet dengan sudut pandang yang berbeda. Ia menyadari bahwa menjadi pemain profesional membutuhkan proses panjang, dukungan, serta kesiapan untuk menghadapi persaingan yang semakin tinggi.

Memasuki usia sekitar 16 tahun, Hanna mulai memikirkan langkah jangka panjang. Ia tetap menjalani tenis sekaligus mempertimbangkan pendidikan dan pilihan karier setelah masa kompetisi.
Hanna kemudian melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi dan masih sempat meraih prestasi di ajang POMNAS. Namun, perjalanan sebagai atlet kompetitif akhirnya berhenti pada 2019.

Cedera yang berulang, keterbatasan dukungan, serta persoalan biaya menjadi sejumlah tantangan yang dihadapinya selama berkarier sebagai atlet.
“Tenis saya sebenarnya tidak berhenti seratus persen. Saya masih melanjutkan, tetapi kemudian saya channel-kan ke hal yang lain,” ujar Hanna.
Hal lain tersebut kemudian mengarah pada kepelatihan. Awalnya, menjadi pelatih bukan pilihan yang direncanakan.
Hanna mulai melatih setelah ada orang yang meminta bantuan untuk berlatih tenis. Dari situ, ia justru menemukan kepuasan ketika dapat membantu pemain lain memahami permainan dan berkembang.
“Awalnya saya tidak ada niat menjadi coach. Saya juga sebenarnya tidak suka. Tapi karena ada orang yang ingin latihan sama saya, akhirnya saya coba. Ternyata saya suka ketika bisa membantu orang berkembang,” katanya.
Pada Desember 2024, Hanna mulai menekuni karier kepelatihan di Kudus. Pengalaman sebagai pemain menjadi bekal untuk memahami latihan dari sudut pandang yang berbeda.
Ia tidak hanya memahami teknik permainan, tetapi juga mengetahui bagaimana rasanya menjalani latihan, menghadapi pertandingan, dan melewati masa ketika perkembangan sebagai atlet tidak selalu berjalan sesuai harapan.
Bagi Hanna, pengalaman tersebut membuat peran pelatih tidak sebatas memberikan instruksi teknis. Pelatih juga perlu memahami pemain dan membangun komunikasi agar proses latihan dapat berjalan dengan baik.

“Coach itu harus punya stamina secara fisik dan mental. Tapi yang paling penting juga bagaimana kita bisa connect dengan murid, bagaimana komunikasi dan trust itu bisa terbentuk,” ujarnya.
Perjalanan kepelatihan Hanna kemudian berkembang ke luar negeri. Pada Agustus 2025, ia mendapat tawaran untuk melatih di Singapura selama sekitar satu tahun.
Perpindahan tersebut membuat Hanna kembali masuk ke lingkungan tenis dengan karakter yang berbeda dari yang sebelumnya ia temui di Indonesia.
Menurut Hanna, terdapat perbedaan suasana dalam proses latihan. Di Indonesia, interaksi antara pelatih dan peserta cenderung lebih cair. Sementara di Singapura, sesi latihan lebih langsung berfokus pada materi yang diberikan.
Perbedaan itu membuat Hanna kembali belajar sebagai pelatih. Ia melihat bahwa pendekatan dalam melatih tidak selalu dapat disamakan untuk setiap pemain atau lingkungan.
Pengalaman sebagai atlet di Kudus, pertandingan di luar negeri, hingga proses menjadi pelatih kemudian menjadi bekal ketika Hanna menjalani pekerjaannya di Singapura.
Bagi Hanna, berpindah lingkungan bukan berarti meninggalkan pengalaman sebelumnya. Justru pengalaman dari tempat-tempat yang pernah dijalaninya menjadi bagian dari cara ia memahami pemain dan proses latihan.
Setelah pengalaman di Singapura, Hanna mendapat kesempatan melatih tim sekolah di British School Jakarta.
Lingkungan tersebut kembali memperluas pengalamannya sebagai pelatih. Jika sebelumnya ia banyak berhadapan dengan perjalanan sebagai pemain dan latihan tenis, kini ia juga belajar memahami kebutuhan pemain dalam lingkungan sekolah.
Perubahan peran dari atlet menjadi pelatih membuat Hanna melihat olahraga tersebut dari sisi yang berbeda. Jika sebagai pemain ia terbiasa mengejar perkembangan diri dan hasil pertandingan, sebagai pelatih ia perlu memperhatikan proses perkembangan orang lain.
Pengalaman itu juga membuat Hanna semakin memahami bahwa kemampuan teknis saja tidak cukup dalam kepelatihan. Pelatih perlu memiliki stamina fisik dan mental, sekaligus mampu membangun komunikasi dan kepercayaan dengan pemain.
Perjalanan dari Kudus ke Singapura dan kemudian Jakarta menjadi bagian dari proses Hanna membentuk cara pandangnya sebagai pelatih. Setiap lingkungan memberi pengalaman yang berbeda dan menjadi bekal untuk menjalani tahap berikutnya.
Meski kini berkarier di Jakarta, hubungan Hanna dengan Kudus tetap menjadi bagian dari perjalanan tersebut. Ia mengenal tenis dari lapangan yang berada dekat rumah dan tumbuh melalui proses latihan serta pertandingan sebelum akhirnya memilih kepelatihan sebagai jalan berikutnya.

Kesungguhan Hanna sebagai atlet juga diingat oleh adiknya, Sebastian Hansel, yang kini turut berkecimpung sebagai pelatih di Sweet Swing Tennis. Sebastian melihat langsung bagaimana Hanna menjalani masa-masa sebagai atlet sejak usia muda.
Menurut Sebastian, Hanna dikenal tekun dan selalu berusaha memberikan kemampuan terbaik dalam setiap pertandingan. Dari kategori usia dini hingga remaja, Hanna juga kerap berada di peringkat teratas.

“Dari KU-10 sampai KU-16 dia selalu ranking satu. Dia selalu tekun dan memberikan seratus persen di setiap pertandingan yang dijalani,” kata Sebastian.
Bagi Sebastian, Hanna bukan hanya kakak, tetapi juga salah satu sosok yang mendorongnya menekuni tenis. Ia kemudian mengikuti jejak sang kakak di bidang olahraga, termasuk dalam pilihan pendidikan di bidang Sastra Inggris.
Pengalaman melihat Hanna berlatih dan bertanding sejak kecil menjadi bagian dari alasan Sebastian menjadikan sang kakak sebagai salah satu panutan dalam perjalanannya di dunia tenis.

Pengalaman yang dijalani Hanna membuatnya melihat bahwa pemain maupun pelatih muda dari daerah memiliki peluang untuk berkembang lebih jauh.
Menurutnya, perjalanan di dunia tenis tidak selalu harus dimulai dari tempat dengan lingkungan olahraga yang besar. Kesempatan dapat muncul ketika seseorang memiliki kemauan untuk belajar, berlatih, dan berani mengambil pengalaman baru.
Hal tersebut pula yang ingin ia bawa ketika kembali terlibat dalam kegiatan tenis di Kudus melalui Sweet Swing Tennis. Hanna ingin olahraga tersebut lebih mudah dicoba oleh masyarakat, termasuk anak-anak yang baru mengenal tenis.

Kini, ia membawa bekal dari setiap tahap tersebut ke dalam pekerjaannya. Bukan hanya tentang teknik dan pertandingan, tetapi juga tentang proses belajar, beradaptasi, dan membuka kesempatan bagi pemain lain untuk berkembang. (ITN/OEB/YSR/mainkekudus)





