

“Tarung Derajat membuka kesempatan kepada siapa pun untuk bergabung, mulai dari anak-anak, pelajar, mahasiswa, bahkan orang tua sekalipun. Konsep kami inklusif, siapa pun warga negara yang berkenan ikut dipersilakan,” ujar Indra.
Untuk peserta baru, tidak ada patokan biaya latihan khusus. Peserta hanya perlu menyiapkan seragam resmi latihan yang disediakan pengurus.

Pembinaan anggota dimulai dengan penguasaan teknik dasar. Peserta diperkenalkan dengan posisi siaga, siaga tarung, teknik pukulan, bantingan, serta serangan dasar lainnya.
“Untuk pemula, fokusnya pada pengenalan teknik dasar seperti posisi siaga, siaga tarung, teknik pukulan, membanting, hingga serangan dasar,” jelas Indra.
Latihan tidak hanya menekankan kemampuan fisik. Peserta juga diperkenalkan dengan sistem Aghar atau Moral dan Mental Guru Haji Achmad Dradjat. Nilai tersebut menjadi bagian dari pembinaan untuk membentuk kedisiplinan, moralitas, serta kontrol diri.

Keselamatan juga menjadi bagian penting dalam latihan, terutama ketika peserta mulai melakukan sparring. Menurut Indra, sistem perlindungan dalam Tarung Derajat telah berkembang dibandingkan masa sebelumnya.
Peserta yang melakukan sparing diwajibkan menggunakan perlengkapan pelindung, seperti headgear, handbox atau handguard, bodygear, groin protector, serta gumshield. Perlengkapan tersebut digunakan untuk memberikan perlindungan pada bagian tubuh yang rentan mengalami benturan selama latihan.

Dalam kompetisi, Tarung Derajat memiliki nomor tarung yang terdiri atas Tarung Putra dan Tarung Putri serta nomor seni gerak seperti Ranger, Tunggal Putra, dan Tunggal Putri.
Untuk pembinaan saat ini, KODRAT Kudus memprioritaskan nomor tarung kategori senior putra dan putri. Pembinaan kategori junior menyesuaikan agenda tingkat provinsi.

Latihan rutin menjadi bagian dari proses untuk melihat kesiapan peserta menuju kompetisi. KODRAT Kudus menggunakan lima kualifikasi dalam melihat kesiapan atlet, yaitu kekuatan, kecepatan, ketepatan, keuletan, dan keberanian.
Kelima aspek tersebut menjadi bagian dari proses pembentukan atlet yang dipersiapkan mengikuti kejuaraan di tingkat daerah hingga nasional.

Proses tersebut terlihat dari perjalanan Vinka Widyaningrum. Ia mulai menekuni Tarung Derajat sejak kelas 1 SMP pada 2015. Ketertarikannya muncul dari karakter olahraga tersebut yang menggabungkan teknik pukulan dan tendangan dalam pertandingan.

Latihan yang dijalaninya kemudian membawanya ke berbagai kompetisi. Salah satu pengalaman paling berat terjadi ketika Vinka tampil pada PON 2021 di Papua.

“Saat di Papua saya mengalami cedera patah dan geser tulang hingga harus dipasang pen, tapi alhamdulillah saat itu berhasil meraih juara 2,” kenang Vinka.
Setelah pengalaman tersebut, ia kembali melanjutkan perjalanan kompetisinya. Vinka meraih medali perak pada PON Aceh-Sumut dan medali emas pada PON Beladiri 2025 di Kudus.
Kini, ia kembali menyiapkan diri menghadapi Porprov. Di tengah jadwal latihan pagi dan aktivitas kuliah, Vinka menargetkan medali emas.
Perjalanan serupa juga dijalani Raffi Syani Pahlevi yang bergabung dengan Tarung Derajat sejak 2022 ketika duduk di kelas 1 SMA.
Raffi tertarik dengan karakter pertandingan Tarung Derajat yang menuntut kecepatan, ketenangan, dan kemampuan membaca situasi. Latihan rutin kemudian membawa perubahan pada kondisi fisiknya. Berat badannya turun 12 kilogram hingga mencapai kondisi yang menurutnya lebih ideal.
Baginya, latihan juga menjadi proses untuk membangun ketenangan ketika menghadapi tekanan di arena.

“Saat sparring atau latihan, kita bukan sekadar adu fisik, tapi adu mental, ketenangan, dan kecerdasan strategi,” tutur Raffi.
Kemampuannya berkembang melalui kompetisi. Pada ajang Pomnas 2025, Raffi meraih dua medali perak dari nomor seni dan nomor tarung.
Di luar latihan dan pertandingan, ia tetap harus membagi waktu dengan perkuliahan, tugas, serta kebutuhan istirahat. Pengaturan waktu menjadi bagian dari rutinitas yang harus dijaga ketika mempersiapkan diri menghadapi kompetisi.
Raffi kini diproyeksikan menjadi bagian dari kontingen delapan atlet Kudus yang dipersiapkan menghadapi Porprov 2026 dengan target meraih medali emas.

Bagi masyarakat yang ingin mencoba Tarung Derajat, latihan dapat dimulai melalui satuan latihan yang tersedia. Peserta baru tidak harus memiliki kemampuan bela diri sebelumnya karena pembinaan dimulai dari pengenalan teknik dasar.
KODRAT Kudus menerima peserta dari berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak, pelajar, mahasiswa hingga orang tua. Jadwal latihan tersedia di tiga satlat, yakni UMK, SMK Wisudha Karya, dan Pondok Manhaj Riyadhus Solihin.

Peserta baru tidak dikenai patokan biaya latihan khusus. Kebutuhan awal yang perlu disiapkan adalah seragam resmi latihan yang disediakan pengurus. Untuk latihan yang melibatkan sparring, perlengkapan perlindungan menjadi bagian penting untuk menjaga keselamatan peserta.
Informasi mengenai pendaftaran dan jadwal latihan dapat diperoleh melalui pengurus atau pelatih KODRAT Kudus di masing-masing satuan latihan.

Perjalanan pembinaan juga berlangsung di luar arena. Misbah, ayah Raffi, melihat perubahan pada anaknya sejak mulai menekuni Tarung Derajat. Menurutnya, latihan membuat Raffi lebih disiplin dalam menjalankan rutinitas, termasuk menjaga pola hidup dan pola makan.
Keluarga juga berusaha hadir ketika Raffi bertanding. Dukungan diberikan langsung dari tribun untuk memberikan semangat selama pertandingan berlangsung.

“Tantangan orang tua sebenarnya hanya ikut mendampingi dalam menjaga pola makan dan pola hidup anak sehari-hari. Kami sangat berharap keberadaan pembinaan Tarung Derajat di Kudus ini terus berjalan baik agar anak-anak dapat terus berprestasi demi meraih masa depan yang lebih baik,” ungkap Misbah.
Bagi KODRAT Kudus, pembinaan masih terus dikembangkan. Perluasan satlat menjadi salah satu langkah untuk mengenalkan Tarung Derajat kepada lebih banyak masyarakat sekaligus membuka kesempatan menemukan calon atlet dari berbagai wilayah di Kudus.

Dari latihan dasar, kedisiplinan, pengendalian diri, hingga pertandingan, proses tersebut menjadi jalur yang dapat dilalui peserta sesuai perkembangan masing-masing. Bagi sebagian peserta, latihan menjadi ruang untuk belajar bela diri. Bagi lainnya, proses tersebut dapat menjadi awal perjalanan menuju arena kompetisi dan membawa nama Kudus. (FZ/mainkekudus)