


Kesempatan mengenal olahraga tinju di Kudus tidak hanya diberikan kepada atlet yang sudah pernah bertanding. Latihan Pertina Kudus juga terbuka bagi masyarakat yang ingin memulai dari dasar. Saat ini, terdapat sekitar 30 anggota aktif dengan latar belakang yang beragam, mulai dari pelajar SMP dan SMA, mahasiswa, hingga pekerja.
Latihan tersebut diberikan secara gratis. Karena itu, masyarakat yang baru ingin mengenal tinju tidak harus memiliki pengalaman bertanding. Mereka dapat mengikuti latihan dari tahap awal dan menyesuaikan diri dengan program yang diberikan pelatih.
Kegiatan latihan berlangsung di beberapa lokasi dan jadwal. Pada Senin dan Kamis, latihan dimulai pukul 16.00 – 18.00 WIB di GOR Djarum Kaliputu, Kudus. Sementara pada Selasa, Rabu, dan Jumat, latihan dimulai pukul 16.00 – 18.00 WIB di gedung kelas SMA NU Hasyim Asy’ari Kudus.
Sabtu menjadi waktu istirahat bagi para atlet. Adapun pada Minggu, latihan fisik dilakukan di ruang terbuka secara bergantian, antara lain di Taman Oasis, Taman Balai Jagong, maupun lokasi lain di wilayah Kudus.
Bagi anggota baru, latihan tidak langsung diarahkan pada pertandingan. Mereka terlebih dahulu mempelajari teknik dasar, membangun kebiasaan berlatih, menjaga kondisi fisik, serta mengenal aspek keselamatan sebelum masuk ke latihan dengan intensitas yang lebih tinggi.

Ruang latihan Pertina Kudus tidak hanya diisi atlet yang sudah terbiasa naik ring. Masyarakat yang belum pernah berlatih tinju pun dapat bergabung dan mempelajarinya dari tahap paling dasar.
Saat ini, sekitar 30 anggota aktif mengikuti latihan dengan latar belakang beragam. Mereka terdiri atas pelajar SMP dan SMA, mahasiswa, hingga pekerja.
Seluruh latihan diberikan secara gratis. Anggota baru juga tidak dituntut memiliki pengalaman sebagai petinju maupun pernah mengikuti pertandingan sebelumnya.
Jadwal latihan tersebar di beberapa lokasi. Setiap Senin dan Kamis, latihan berlangsung di GOR Djarum Arena Kaliputu, Kudus. Sementara pada Selasa, Rabu, dan Jumat, kegiatan dipusatkan di gedung kelas SMA NU Hasyim Asy’ari Kudus.
Sabtu menjadi hari istirahat. Pada Minggu, sesi latihan bergeser ke ruang terbuka dengan fokus pada latihan fisik. Lokasinya bergantian, mulai dari Taman Oasis, Taman Balai Jagong, hingga sejumlah tempat lain di wilayah Kudus.
Anggota baru tidak langsung diarahkan untuk bertanding. Mereka lebih dulu mempelajari teknik dasar, membangun kebiasaan berlatih, meningkatkan kondisi fisik, sekaligus memahami aturan keselamatan dalam olahraga tinju.

Pelatih Pertina Kudus, Suwono, menyebut keberanian sebagai salah satu modal penting seorang petinju. Namun, keberanian saja tidak cukup. Atlet juga membutuhkan disiplin, semangat juang, dan kemampuan teknik yang terus diasah.
“Yang pertama kedisiplinan dan semangat juang. Yang pertama adalah nyali, keberanian. Jadi tekniknya apapun kalau dia tidak punya nyali, orangnya penakut, nggak bakal bisa untuk berprestasi,” ujar Suwono.
Karena itu, kemampuan atlet dibangun secara bertahap. Pemula tidak langsung masuk ke latihan tanding dengan intensitas tinggi. Mereka terlebih dahulu mengenal teknik dasar dan membangun kebiasaan latihan sebelum menerima materi yang lebih kompleks.
Ketika mulai memasuki sesi sparring, aspek keselamatan tetap menjadi perhatian. Atlet menggunakan perlengkapan pelindung seperti mouthguard dan headgear. Intensitas pukulan pun dibatasi dan dikontrol sesuai kebutuhan latihan.

Wasit turut berada di tengah ring untuk mengawasi jalannya sparring. Jika seorang atlet menerima benturan atau pukulan yang dinilai terlalu keras, latihan dapat dihentikan sementara untuk memastikan kondisinya.
Dengan pola tersebut, latihan tidak hanya berfokus pada kemampuan menyerang dan bertahan. Atlet juga belajar mengenali batas tubuh, menjaga kondisi fisik, serta mengikuti instruksi pelatih selama berada di ring.

Meski latihan diberikan secara gratis, anggota tetap perlu menyiapkan sejumlah perlengkapan dasar untuk menunjang keamanan. Beberapa di antaranya pelindung gigi atau mouthguard, pembalut tangan atau handwrap, serta pelindung kepala atau headgear saat memasuki latihan tanding.
Perlengkapan tersebut digunakan sesuai kebutuhan dan tahapan latihan. Fungsinya menjadi semakin penting ketika atlet mulai menjalani sesi dengan intensitas lebih tinggi.
Bagi pemula, pertandingan bukan target yang harus langsung dikejar. Latihan dimulai dengan penguasaan teknik dasar dan pembangunan kondisi fisik sebelum mereka menerima materi yang lebih kompleks.
Dari tahapan tersebut, pelatih dapat memantau perkembangan setiap atlet. Kemampuan mengikuti latihan, kedisiplinan, keberanian, kondisi fisik, hingga kemauan untuk terus belajar menjadi bagian dari proses sebelum seorang atlet diarahkan ke jenjang berikutnya.
Pembinaan atlet pelajar di Pertina Kudus berlangsung secara bertahap. Atlet dapat memulai dari latihan rutin, lalu mengikuti proses seleksi ketika ada agenda pertandingan yang sesuai dengan kelompok usia dan kelasnya.
Kejuaraan kemudian menjadi ruang untuk menguji hasil latihan. Dari pengalaman menghadapi lawan dan atmosfer pertandingan, atlet dapat mengetahui aspek yang sudah berkembang maupun bagian yang masih perlu diperbaiki saat kembali berlatih.
Ketua KONI Kabupaten Kudus, Sulistiyanto, melihat pembibitan atlet usia dini dan pelajar sebagai bagian penting untuk menjaga keberlanjutan prestasi olahraga di daerah.
“Tinju perkembangannya cukup bagus, cukup baiklah untuk proses pembibitan maupun pembinaannya cukup-cukup baik. Jadi dengan prestasinya juga ada progresnya gitu grafik naik. Kenaikan-kenaikannya tidak terlalu tajam, tapi konsisten,” ujar Sulistiyanto.
Menurut dia, perkembangan tersebut dibangun secara bertahap. Atlet pelajar yang menunjukkan kemajuan memiliki kesempatan untuk naik ke jenjang kompetisi berikutnya sesuai kelompok usia dan agenda kejuaraan yang tersedia.
Dukungan terhadap pembinaan salah satunya diberikan melalui anggaran yang disalurkan kepada pengurus kabupaten. KONI juga menyiapkan penghargaan bagi atlet yang berhasil meraih medali pada ajang resmi seperti Porprov.

Di luar kebutuhan latihan dan kompetisi, pembinaan tinju juga berhadapan dengan persepsi masyarakat. Olahraga ini masih kerap dipandang identik dengan benturan dan pukulan ke kepala.
Persepsi tersebut menjadi tantangan ketika tinju diperkenalkan kepada calon anggota baru. Karena itu, penguasaan teknik dasar, penggunaan perlengkapan pelindung, pengawasan pelatih, serta pengaturan intensitas sparring menjadi bagian penting dalam setiap tahapan latihan.
Latihan yang terbuka memberi kesempatan bagi pelajar maupun masyarakat untuk mengenal tinju tanpa harus langsung naik ring. Anggota baru memulai dari teknik dasar dan latihan fisik, kemudian berkembang sesuai kemampuan masing-masing.
Dari proses itu, pelatih dapat melihat potensi atlet untuk dikembangkan lebih jauh. Mereka yang menunjukkan kemampuan dan kesiapan kemudian diarahkan mengikuti kejuaraan sesuai kelompok usia dan kelas pertandingan. Regenerasi pun berjalan dari anggota baru yang datang, berlatih, berkembang, hingga mendapat kesempatan bertanding.
Siklus tersebut terus berulang di ruang latihan Pertina Kudus. Atlet yang telah mengikuti kejuaraan kembali berlatih untuk memperbaiki kemampuan, sementara anggota baru mulai mempelajari dasar-dasar tinju.
Sebagian besar proses pembinaan justru berlangsung jauh dari podium. Atlet mempelajari gerakan, mengoreksi teknik, meningkatkan kondisi fisik, lalu mengulangnya pada sesi berikutnya. Dari rutinitas itulah regenerasi berjalan dan atlet dipersiapkan untuk menghadapi jenjang kompetisi berikutnya. (JMY/mainkekudus)