


Dengan sumber daya yang terbatas, setiap sesi latihan dimanfaatkan untuk memperkuat kesiapan tim. Porprov menjadi kesempatan melihat sejauh mana kemampuan tersebut dapat diterapkan ketika atlet menghadapi tekanan pertandingan sesungguhnya.

Bagi Muhammad Faza Anisna, persiapan debut di Porprov bukan hanya tentang menguasai teknik. Ia juga harus membangun stamina, mengendalikan emosi, dan belajar membaca pergerakan lawan dalam waktu singkat.
Sebelumnya, Faza lebih banyak mengikuti kejuaraan yang diselenggarakan kampus dan lembaga pendidikan. Pengalaman tersebut menjadi bekal untuk menghadapi persaingan di tingkat provinsi.
Faza mempersiapkan diri pada kategori fight, yang menuntut keseimbangan antara kemampuan menyerang dan bertahan. Ketepatan membaca situasi menjadi penting karena setiap keputusan dapat menentukan jalannya pertandingan.
Kesadaran terhadap tuntutan tersebut membuatnya tidak hanya mengandalkan latihan bersama tim. Ia juga menambah porsi latihan secara mandiri di rumah untuk meningkatkan kesiapan fisik dan teknik.

“Kalau hanya mengandalkan latihan dari pelatih, menurut saya masih kurang. Kami tetap harus berlatih sendiri di rumah untuk menambah jam latihan, tetapi tetap mengikuti arahan pelatih,” ungkap Faza.
Dukungan keluarga dan pelatih menjadi penyemangatnya menjalani persiapan. Meski menyadari persaingan tidak mudah, Faza tetap memasang target meraih medali.
Baginya, kesempatan tampil di Porprov juga menjadi sarana mengukur kemampuan pribadi. Pengalaman menghadapi lawan dengan karakter dan strategi berbeda diharapkan dapat membantunya mengenali kekuatan sekaligus aspek yang masih perlu diperbaiki.
Ambisi tersebut mencerminkan semangat atlet Hapkido Kudus yang mulai membangun pengalaman di tingkat kompetisi lebih tinggi. Hasil pertandingan menjadi bahan evaluasi, sementara proses persiapan memberikan pelajaran tentang disiplin, konsistensi, dan kesiapan mental.

Keikutsertaan dalam Porprov merupakan satu tahap dari perjalanan panjang Hapkido Kudus. Tantangan berikutnya adalah memastikan pengalaman yang diperoleh dapat memperkuat pembinaan secara berkelanjutan.
Keterbatasan sarana dan anggaran masih mempengaruhi pelaksanaan program latihan. Di sisi lain, pengembangan atlet membutuhkan pendampingan teknis, peningkatan kapasitas pelatih, serta kesempatan bertanding yang lebih luas.
Kondisi tersebut mendorong Hapkido Kudus memanfaatkan jejaring antara pelatih dan pengalaman dari cabang bela diri lain sebagai bagian dari proses pembelajaran.

Kolaborasi dengan pelatih dari Pati menjadi salah satu upaya memperkuat kemampuan teknis. Pendekatan ini memungkinkan atlet memperoleh tambahan pengetahuan meski fasilitas pembinaan belum sepenuhnya memadai.
Bagi Hadi, tantangan lainnya adalah membangun ketertarikan masyarakat terhadap Hapkido. Dibandingkan pencak silat, karate, atau taekwondo, olahraga ini masih relatif belum dikenal luas di Kudus.
Karena itu, pengembangan prestasi perlu berjalan seiring dengan upaya memperkenalkan Hapkido kepada calon atlet baru. Tanpa regenerasi, keberlanjutan pembinaan akan sulit dipertahankan.

Upaya memperkenalkan Hapkido mulai dilakukan melalui media sosial. Pengurus dan pelatih memanfaatkan TikTok serta Instagram untuk membagikan aktivitas latihan dan memperlihatkan beragam teknik yang dipelajari atlet.
Melalui konten tersebut, masyarakat diharapkan dapat mengenal karakter Hapkido sekaligus melihat peluang untuk ikut berlatih.
Hadi juga memiliki rencana memperluas pengenalan olahraga ini melalui kegiatan ekstrakurikuler sekolah. Langkah tersebut diharapkan membuka akses bagi anak-anak dan remaja untuk mengenal Hapkido sejak dini.
Namun, menarik minat calon atlet baru baru menjadi langkah awal. Pembinaan yang konsisten tetap dibutuhkan agar ketertarikan mereka dapat berkembang menjadi keterampilan dan kesiapan berkompetisi.
Harapan serupa disampaikan Faza. Ia ingin semakin banyak generasi muda mengenal Hapkido, termasuk berbagai teknik yang dapat digunakan untuk membela diri.
“Hapkido memiliki banyak ilmu, termasuk teknik kuncian yang bisa digunakan untuk membela diri. Saya berharap anak-anak semakin tertarik untuk belajar Hapkido,” tuturnya.
Bagi Hapkido Kudus, Porprov 2026 menjadi titik awal untuk menilai kemampuan sekaligus menentukan arah pengembangan tim. Target medali tetap menjadi motivasi, tetapi pengalaman bertanding, peningkatan kualitas latihan, dan regenerasi atlet menjadi pekerjaan jangka panjang yang tak kalah penting.
Dari latihan sederhana hingga kesempatan tampil di arena provinsi, Hapkido Kudus sedang membangun pijakan untuk berkembang. Langkah awal ini diharapkan menjadi fondasi bagi lahirnya atlet-atlet yang mampu membawa nama Kudus dalam kompetisi berikutnya. (OEB/YSR/mainkekudus)