

Kelompok usia dalam pembinaan dibagi menjadi empat. Pra-kadet diperuntukkan bagi anak usia 8–12 tahun, kadet 13–15 tahun, junior 16–20 tahun, serta senior. Dengan pembagian tersebut, calon atlet dapat mengikuti latihan sesuai kelompok usia dan tahap pembinaannya.

Masyarakat yang ingin mengenal anggar dapat bergabung melalui latihan IKASI Kudus. Pendaftaran anggota baru tidak dipungut biaya administrasi.
Kompleks latihan utama berada di SMP Muhammadiyah 1 Kudus, tepatnya di area gedung belakang dekat aula. Latihan rutin untuk umum dilaksanakan pada Senin, Rabu, Jumat, dan Sabtu. Jadwal tersebut terbuka bagi pelajar maupun peserta perorangan.
Dalam bahan informasi yang tersedia, belum dicantumkan nomor kontak, akun media sosial resmi IKASI Kudus, maupun jam mulai dan selesai setiap sesi latihan. Informasi tersebut perlu dikonfirmasi langsung kepada pengurus sebelum calon atlet datang ke lokasi.
Untuk kebutuhan latihan, peserta dikenai iuran sukarela minimal Rp5.000 setiap kehadiran. Iuran tersebut digunakan untuk mendukung perawatan senjata, kebersihan, dan kebutuhan air minum atlet.
Sementara itu, biaya perlengkapan pribadi yang perlu disiapkan calon atlet belum dirinci dalam sumber informasi. Begitu pula dengan informasi mengenai mekanisme peminjaman alat bagi peserta baru belum disebutkan.
Anggar memiliki tiga jenis senjata yang menjadi bagian dari pembinaan di IKASI Kudus, yakni floret, degen, dan sabel. Ketiganya tidak menggunakan aturan sasaran yang sama.
Floret atau foil merupakan senjata tusuk yang ringan dan fleksibel. Sasaran yang diperbolehkan untuk memperoleh poin berada pada bagian batang tubuh atau torso. Kepala, tangan, dan kaki tidak termasuk area sasaran.
Degen atau épée memiliki karakter lebih berat dan kaku dibandingkan floret. Pada nomor ini, seluruh bagian tubuh lawan, mulai dari kepala hingga kaki, menjadi area sasaran yang sah.
Sementara itu, sabel atau sabre dapat digunakan untuk gerakan tikam sekaligus potong dengan sisi bilah. Area sasaran yang berlaku adalah bagian tubuh dari pinggang ke atas, termasuk kepala dan lengan.
Perbedaan tersebut membuat atlet perlu mempelajari teknik sesuai dengan senjata yang digunakan. Namun, bagi pemula, latihan tidak langsung diarahkan pada penguasaan senjata.

Pelatih anggar IKASI Kudus, Agung Nugroho, menjelaskan bahwa latihan dasar bagi pemula dimulai dari footwork. Gerakan kaki menjadi fondasi sebelum atlet mempelajari teknik menggunakan senjata.
“Untuk latihan sebagai pemula di anggar itu basic-nya di footwork, latihan dasar digerakkan kaki. Habis dari gerakan kaki sudah mahir baru lanjut ke teknik senjata,” ujar Agung.

Setelah gerakan kaki dikuasai, latihan mulai diarahkan pada teknik berdasarkan jenis senjata. Atlet kemudian mempelajari teknik klasikal, semi-lesson, hingga latihan berpasangan untuk membaca gerakan dan mencari momentum serangan.
Proses latihan tersebut membutuhkan koordinasi antara kaki, tubuh, dan respons terhadap instruksi. Karena itu, latihan anggar tidak hanya berkaitan dengan kemampuan melakukan serangan dan bertahan, tetapi juga membutuhkan konsentrasi dan kedisiplinan.
Menurut Agung, atlet harus mengikuti materi latihan yang telah diberikan pelatih. Koordinasi antara otak, kaki, dan tubuh juga terus dilatih melalui gerakan yang dilakukan secara berulang.
Untuk menjaga konsentrasi, atlet muda tidak diperbolehkan menggunakan telepon seluler selama berada di area latihan. Perhatian peserta diarahkan pada latihan fisik, teknik, dan strategi.

Anggar menggunakan senjata logam sehingga perlengkapan perlindungan menjadi bagian wajib dalam latihan. Atlet menggunakan baju anggar khusus yang terbuat dari bahan serat sintetis dengan ketahanan terhadap tusukan minimal 350 Newton untuk tingkat latihan atau regional. Standarnya dapat lebih tinggi untuk tingkat internasional.
Pelindung kepala juga wajib digunakan. Masker yang dipakai atlet menggunakan jaring baja atau full stainless steel mesh untuk melindungi bagian wajah dan kepala.
Atlet juga menggunakan pelindung tambahan berupa breast cap atau pelindung dada yang diwajibkan bagi atlet putri, serta handspun atau pelindung tangan.
Aturan penggunaan perlengkapan tidak hanya diterapkan ketika atlet mengikuti pertandingan. Saat latihan teknik berpasangan, perlindungan tetap diwajibkan.
Agung mengatakan penggunaan masker tetap harus dilakukan meskipun latihan yang berlangsung merupakan teknik klasikal. Menurutnya, gerakan anggar tetap memiliki risiko mengenai kepala, mata, atau bagian tubuh vital lainnya.
Dengan demikian, calon atlet perlu memahami bahwa latihan anggar tidak hanya mempelajari teknik, tetapi juga memiliki prosedur keselamatan yang harus dipatuhi sejak awal.
Tidak semua atlet langsung dikirim mengikuti pertandingan. IKASI Kudus menerapkan proses seleksi secara bertahap berdasarkan pencapaian atlet.
Seleksi dimulai dari tingkat kabupaten. Atlet yang mampu meraih posisi juara di tingkat kabupaten dapat memperoleh kenaikan grade untuk mewakili Kudus di tingkat Provinsi Jawa Tengah.
Jika prestasi dan konsistensi atlet terus berkembang, pengurus dapat memberikan dukungan untuk mengikuti pertandingan di tingkat nasional.
Pola tersebut membuat kejuaraan menjadi bagian dari proses pembinaan. Atlet tidak hanya berlatih untuk menguasai teknik, tetapi juga memiliki kesempatan menguji kemampuan melalui kompetisi sesuai dengan perkembangan masing-masing.
Dalam sumber informasi yang tersedia belum dicantumkan jadwal seleksi internal berikutnya maupun daftar kejuaraan terdekat yang akan diikuti IKASI Kudus.

Perjalanan atlet anggar Kudus juga terlihat dari keikutsertaan mereka dalam berbagai kejuaraan di tingkat daerah hingga nasional. Kompetisi menjadi bagian dari proses pembinaan sekaligus ruang bagi atlet untuk mengukur perkembangan kemampuan setelah menjalani latihan.
Pada Kejurda Anggar 2026 yang digelar di SMP Muhammadiyah Kudus Jumat 18 September 2026 lalu. Sejumlah atlet muda Kudus mencatat hasil di nomor floret dan degen. July Edrea Clarabelle meraih juara pertama nomor floret putri, Zaky Zuhair menempati posisi kedua nomor floret putra, M. Dzaky An-Nuur meraih posisi kedua nomor degen putra, sedangkan Galang Aleka Utama berada di posisi ketiga nomor degen putra.

Hasil tersebut menunjukkan bahwa kejuaraan tingkat daerah juga menjadi ruang bagi atlet usia muda untuk mendapatkan pengalaman bertanding. Bagi atlet yang masih berada dalam tahap pembinaan, pengalaman mengikuti pertandingan menjadi bagian dari proses mengenal atmosfer kompetisi sekaligus mengembangkan kemampuan sesuai kelompok usia dan nomor yang diikuti.

Juara 1 nomor sabel dan Juara 2 nomor floret menjadi salah satu catatan awal perjalanan Fiqqi Muftakhul Khoir sebagai atlet anggar. Atlet berusia 14 tahun itu meraih dua hasil tersebut dalam Kejurda Anggar Kabupaten Kudus setelah menjalani latihan secara rutin sejak 2024.
Fiqqi kini duduk di kelas 9 MTs NU TBS Kudus. Ia mulai mengenal anggar ketika berada di kelas 7. Ketertarikannya muncul setelah melihat sang kakak lebih dahulu menjadi atlet dan mengikuti pembinaan anggar di Kudus.
Perjalanan menuju pertandingan tidak langsung berjalan mudah. Pada awal mengikuti latihan, Fiqqi harus menyesuaikan diri dengan aktivitas fisik yang belum biasa dijalaninya. Ia sempat merasakan sakit dan kelelahan setelah latihan. Seiring latihan yang dilakukan secara rutin, kondisi tersebut perlahan mulai dapat diatasi.
“Awalnya itu memang sedikit sakit atau capek banget gitu, terus lama-lama sudah terbiasa,” kata Fiqqi.
Setelah mulai terbiasa dengan latihan, Fiqqi kemudian mendapat kesempatan mengikuti pertandingan di tingkat yang lebih luas. Pada kejuaraan regional, ia meraih Juara 2 atau medali perak nomor floret kategori pra-kadet.
Bagi Fiqqi, pertandingan menjadi bagian dari proses untuk mengukur kemampuan yang dibangun melalui latihan. Pengalaman tersebut sekaligus menjadi tahap lanjutan setelah ia mempelajari dasar gerakan dan mulai menguasai teknik anggar.
Perjalanan sebagai atlet juga mendapat dukungan dari keluarga. Orang tua membantu memenuhi kebutuhan perlengkapan pribadi, seperti sepatu dan pakaian khusus. Dukungan tersebut juga diberikan ketika Fiqqi harus mengikuti pertandingan di luar kota, termasuk kebutuhan biaya selama mengikuti kompetisi.
Dari latihan dan sejumlah pertandingan yang telah dijalani, Fiqqi mulai menetapkan target berikutnya. Ia ingin melanjutkan pembinaan hingga dapat masuk skuad nasional dan mendapat kesempatan bertanding di tingkat internasional.

Bertambahnya jumlah peserta latihan membuat kebutuhan pembinaan ikut meningkat. Dengan sekitar 80 atlet aktif, ketersediaan peralatan senjata dan perlindungan belum sebanding dengan jumlah atlet.
Imam menyebut peralatan yang tersedia saat ini baru sekitar seperempat dari kebutuhan seluruh atlet yang aktif berlatih. Kondisi tersebut menjadi salah satu persoalan yang harus dihadapi dalam menjaga keberlangsungan latihan.
Jumlah pelatih juga masih terbatas. Saat ini terdapat tiga pelatih aktif yang menangani puluhan atlet dengan jadwal latihan selama enam hari dalam sepekan. Jadwal latihan dibagi agar proses pembinaan tetap berjalan, tetapi rasio antara jumlah pelatih dan atlet belum ideal.
Selain persoalan fasilitas dan pelatih, konsistensi atlet remaja juga menjadi tantangan. Usia transisi membuat sebagian atlet harus membagi perhatian dengan aktivitas lain di luar latihan. Menjaga kehadiran dan fokus menjadi bagian dari proses pembinaan yang perlu dilakukan secara berkelanjutan.
Bagi IKASI Kudus, pertumbuhan jumlah peserta sekaligus menjadi kebutuhan untuk memperkuat sistem pembinaan. Target organisasi adalah kembali melahirkan atlet yang mampu memperkuat tim nasional dan mengikuti ajang multi-event seperti Asian Games.
Bagi calon atlet, perjalanan tersebut dimulai dari tahap yang sederhana: datang ke tempat latihan, mengenal gerakan kaki, memahami teknik dasar, menggunakan perlengkapan keselamatan, lalu berkembang sesuai kemampuan. Dari proses itulah jalur pembinaan anggar di Kudus berjalan, dengan kesempatan mengikuti kompetisi terbuka bagi atlet yang mampu menunjukkan perkembangan dan prestasi. (JMY/mainkekudus)