
KUDUS – Jarum jam mendekati pukul sembilan malam. Di Angkringan CS Djoglo, Jalan Lingkar Panjang, Kudus, suasana mulai ramai. Pengunjung berdatangan, memilih makanan di gerobak, lalu mencari tempat duduk untuk menikmati aneka bakaran atau sekadar berbincang sambil menyeruput kopi.
Keramaian biasanya terus berlangsung hingga pukul 23.00 WIB. Pada rentang waktu tersebut, angkringan berkapasitas sekitar 80 hingga 100 orang ini memasuki jam tersibuknya.
“Prime time-nya itu jam 9 sampai jam 11 malam. Itu biasanya ramai. Kalau sore sampai malam gini lumayan lengang,” tutur pengelola Angkringan CS Djoglo, Noor Arif Budianto.

Beroperasi mulai pukul 17.00 hingga 01.00 WIB, CS Djoglo memberi ruang bagi mereka yang ingin makan selepas beraktivitas maupun menghabiskan malam bersama teman.
Pengunjung yang menginginkan suasana lebih tenang dapat datang sejak sore. Sebaliknya, mereka yang ingin merasakan keramaian angkringan bisa memilih waktu setelah pukul 21.00 WIB.
Namun, di balik aktivitas malamnya, CS Djoglo menyimpan cerita perjalanan usaha yang tidak selalu menetap di satu tempat. Sejak dirintis pada 2019, angkringan ini telah beberapa kali berganti alamat sebelum akhirnya menempati lokasi sekarang pada 2025.
Perjalanan itu pula yang mempertemukan CS Djoglo dengan pelanggan lama yang terus mengikuti perpindahannya dan pengunjung baru yang datang karena penasaran.
Perjalanan CS Djoglo bermula di Kajeksan pada 2019. Usaha tersebut kemudian berpindah ke Singocandi dan Kerandon sebelum menetap di Jalan Lingkar Panjang pada 2025.
Lokasi terbarunya berada di sekitar Garasi Berlian Jaya dan Sunday Cafe, tidak jauh dari jalan utama.
Perpindahan tersebut menjadi bagian dari perjalanan Noor Arif mengembangkan usaha kulinernya. Di tempat sekarang, ia memiliki area yang mampu menampung puluhan pelanggan, baik yang datang sendiri maupun bersama rombongan.
Bagi pelanggan lama, pergantian alamat rupanya tidak memutus kebiasaan berkunjung.
Abdullah Ni’am, warga Jati Wetan, termasuk pelanggan yang telah mengenal CS Djoglo sejak masih beroperasi di lokasi sebelumnya. Ia tetap mengikuti perjalanan angkringan tersebut hingga menempati tempat yang sekarang.

Menurut Ni’am, lokasi baru memberikan suasana yang lebih sesuai untuk anak muda. Harga makanan yang terjangkau dan interaksi dengan penjual turut membuatnya betah.
“Lokasinya lebih oke buat nongkrong anak muda. Harganya murah bagi anak remaja, lebih friendly ke pelanggan,” katanya.

Dengan kapasitas yang lebih besar, CS Djoglo juga menjadi tempat berkumpul kelompok pertemanan maupun komunitas. Pengunjung dapat memilih waktu kedatangan sesuai suasana yang mereka inginkan, mulai dari sore yang relatif lengang hingga malam yang lebih ramai.

Aneka sate dan gorengan bakar menjadi salah satu menu yang banyak diminati di CS Djoglo. Makanan dipilih langsung dari gerobak, kemudian dibakar sebelum disajikan.

Namun, racikan yang digunakan sekarang bukan resep yang langsung ditemukan ketika usaha ini pertama kali dirintis.
Noor Arif sempat mencoba beberapa variasi bumbu untuk menemukan rasa yang sesuai dengan selera pelanggan. Bumbu rujak dan bumbu bawang pernah menjadi pilihan, tetapi respons yang diterima tidak seperti yang diharapkan.

Ia kemudian menyederhanakan racikan dengan mengandalkan saus, kecap, serta perpaduan rasa manis dan pedas.
“Dulu berganti-ganti bumbu, ada bumbu rujak, bumbu bawang, malah pada enggak suka. Kita buat simpel saja bumbunya: saus, kecap, sama racikan manis pedas. Malah pada suka,” ujarnya.
Dari percobaan tersebut, pengelola akhirnya mempertahankan racikan yang lebih sederhana. Pengunjung juga bisa menambahkan mayones dan cabai rawit untuk menyesuaikan rasa.
Menu bakaran kini menjadi salah satu pilihan yang menonjol di tengah beragam makanan angkringan, termasuk nasi dan gorengan.

Harganya pun relatif terjangkau. Aneka sate dan gorengan dijual sekitar Rp2.000 hingga Rp3.000, sedangkan nasi dibanderol sekitar Rp4.000.
Untuk menemani makanan, tersedia minuman dingin seperti es teh, es jeruk, dan Good Day. Pilihan hangatnya meliputi kopi, jahe, susu madu, serta jeruk hangat.
Harga minuman berkisar Rp4.000 hingga Rp12.000. Minuman sasetan rata-rata dijual sekitar Rp6.000, sementara susu soda dan susu jahe madu berada pada kisaran harga yang lebih tinggi.
Menurut perkiraan pengelola, pelajar bisa menikmati makanan dengan pengeluaran sekitar Rp10.000. Adapun pelanggan remaja dan dewasa rata-rata menghabiskan Rp25.000 hingga Rp35.000 untuk makan dan minum.
Besarnya pengeluaran bergantung pada jumlah pesanan. Pelanggan yang hanya ingin menikmati makanan ringan cukup memilih beberapa tusuk sate atau gorengan. Sementara itu, mereka yang datang untuk makan malam dapat menambahkan nasi dan minuman.
Di antara deretan menu yang tersedia, ada satu makanan yang justru direkomendasikan pelanggan lama meski belum tercantum dalam buku menu: mi nyemek.
Keberadaannya belum menjadi bagian dari sajian tetap CS Djoglo. Pengunjung tidak selalu bisa memesannya karena pembuatannya bergantung pada kondisi dan kesediaan penjual.
Meski demikian, Abdullah Ni’am menilai mi nyemek layak mendapat tempat tersendiri dalam daftar makanan angkringan tersebut.
“Mi nyemek itu recommended. Harusnya menu ini masuk ke dalam buku menu,” ujarnya.
Harapan Ni’am menunjukkan bahwa pelanggan tidak hanya menikmati makanan yang tersedia, tetapi juga memiliki masukan terhadap pengembangan menu.
Selera setiap pengunjung tentu berbeda. Muhammad Ashfa Hana, pelanggan asal Loram Kulon yang juga telah mengenal CS Djoglo sejak lokasi sebelumnya, lebih sering memilih gorengan dan sosis bakar.
Makanan tersebut dapat dinikmati bersama tambahan mayones dan cabai rawit.
Bagi pengunjung baru yang penasaran dengan mi nyemek, ketersediaannya perlu ditanyakan langsung kepada penjual. Sementara itu, aneka bakaran tetap menjadi pilihan yang bisa ditemukan dalam daftar menu.

Tidak semua pengunjung CS Djoglo mengenal angkringan ini sejak awal berdiri. Sebagian datang setelah melihat keramaian, sedangkan lainnya mendapat informasi dari teman.
Kaka, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Kudus asal Ngembalrejo, awalnya tertarik ketika melintas dan melihat angkringan tersebut ramai.
Rasa penasaran itu membawanya untuk mencoba datang. Setelah berkunjung, ia memperhatikan suasana tempat dengan pencahayaan bernuansa oranye yang memberikan kesan hangat pada malam hari.
Pelayanan yang ramah turut menjadi bagian dari pengalamannya.
Berbeda dengan Kaka, Jimmy, warga Jepang Pakis, mengenal CS Djoglo melalui seorang teman. Lokasinya yang tidak jauh dari tempat kerja kemudian membuatnya memilih angkringan tersebut sebagai tempat singgah.

Jimmy biasa memesan kopi Good Day seharga sekitar Rp5.000 dan beberapa makanan bakaran.
Sementara itu, Kaka beberapa kali memilih Good Day Freeze, meskipun pesanannya bisa berubah sesuai keinginan.
Pengalaman keduanya memperlihatkan bagaimana pelanggan baru menemukan CS Djoglo melalui cara yang berbeda. Ada yang tertarik karena melihat keramaian dari jalan, ada pula yang datang setelah mendengar cerita dari orang terdekat.
Bagi pelanggan lama seperti Ni’am dan Ashfa, alasan kembali berkunjung tidak terbatas pada makanan.
Keduanya telah mengikuti perjalanan CS Djoglo dari lokasi sebelumnya. Setelah berpindah ke Jalan Lingkar Panjang, mereka tetap menjadikan tempat tersebut sebagai salah satu pilihan untuk berkumpul.

Selain menu dan harga, kenyamanan menjadi pertimbangan pelanggan yang ingin menghabiskan waktu lebih lama.
CS Djoglo menyediakan kipas angin, toilet, Wi-Fi gratis, stopkontak, serta pemutar musik. Pengunjung dapat memanfaatkan fasilitas tersebut untuk berbincang, menikmati kopi, atau bermain gim bersama teman.
Ashfa menilai fasilitas yang tersedia menjadi salah satu kelebihan tempat ini dibandingkan sejumlah angkringan lain yang pernah ia kunjungi.
“Kalau dibanding angkringan lain, di sini lebih nyaman. Ada fasilitas kipas angin, toilet, dan sarana pendukung lainnya,” ujarnya.

Kapasitas sekitar 80 hingga 100 orang memungkinkan CS Djoglo menerima pelanggan yang datang secara berkelompok. Meski demikian, tempat duduk dapat lebih terbatas ketika memasuki jam ramai pada pukul 21.00 hingga 23.00 WIB.
Bagi pengunjung yang membutuhkan fasilitas ibadah, tersedia mushola dan tempat wudhu.
Area parkir juga disediakan tanpa tarif khusus. Sebagai gantinya, pengelola menempatkan kotak amal yang dapat diisi secara sukarela. Donasi tersebut diperuntukkan bagi anak yatim maupun warga sekitar.
Fasilitas ini melengkapi konsep angkringan yang tidak hanya melayani pelanggan untuk makan, tetapi juga menyediakan tempat berkumpul hingga dini hari.
Proses pemesanan dilakukan langsung di gerobak. Pengunjung memilih makanan yang tersedia, kemudian menyampaikan pesanannya kepada petugas.
Pembayaran dapat dilakukan secara tunai atau menggunakan QRIS. Bagi pelanggan yang tidak ingin makan di tempat, tersedia pula layanan pesanan untuk dibawa pulang.
Pengelola berupaya melayani pesanan bungkus secara langsung agar pelanggan tidak perlu menunggu terlalu lama.

Tujuh tahun menjalankan usaha dengan beberapa kali pergantian lokasi membuat Noor Arif memiliki harapan tersendiri terhadap masa depan CS Djoglo.
Setelah menempati Jalan Lingkar Panjang sejak 2025, ia ingin angkringannya bisa bertahan di alamat tersebut dalam jangka panjang.
Keinginannya bukan sekadar mempertahankan usaha yang sudah berjalan. Noor Arif juga berharap CS Djoglo terus berkembang hingga suatu saat mampu membuka cabang di tempat lain.
“Harapannya jangan pindah-pindah lokasi lagi, usaha lancar sampai puluhan tahun, laris manis, bisa buka cabang-cabang baru, dan makin sukses,” katanya.
Harapan untuk berkembang juga datang dari pelanggan yang telah mengikuti perjalanan angkringan ini.
Ni’am ingin CS Djoglo terus tumbuh dan turut mendukung perkembangan UMKM di Kudus. Ia juga masih berharap mi nyemek yang selama ini tersedia secara terbatas dapat dimasukkan ke dalam buku menu.
Ashfa memiliki usulan berbeda. Menurutnya, bagian belakang angkringan berpeluang dikembangkan menjadi area terbuka untuk menambah pilihan tempat duduk.
Masukan tersebut menjadi gambaran bahwa pelanggan tidak hanya datang untuk menikmati makanan, tetapi juga menaruh perhatian pada perkembangan tempat yang selama ini mereka kunjungi.

Bagi Noor Arif, perjalanan dari Kajeksan, Singocandi, hingga Kerandon kini berlanjut di Jalan Lingkar Panjang. Lokasi boleh berganti, tetapi pelanggan lama masih menemukan alasan untuk kembali, sementara pengunjung baru terus berdatangan.
Menjelang tengah malam, ketika sebagian tempat makan mulai bersiap tutup, CS Djoglo masih melayani pesanan di gerobaknya. Percakapan antarpengunjung berlanjut, kopi kembali dipesan, dan aneka bakaran tetap menjadi teman menghabiskan malam.
Di alamat yang sekarang, Noor Arif berharap tak perlu lagi memindahkan gerobaknya. Jika kelak CS Djoglo membuka cabang, perpindahan berikutnya bukan lagi untuk mencari tempat baru, melainkan memperluas usaha yang telah ia bangun sejak 2019. (FZ/mainkekudus)







