
6VF8+PFC, Kayuapu Kulon, Gondangmanis, Kec. Bae, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah 59327, Indonesia
Ketika berusia 12 tahun, Hastomo mendapat kesempatan masuk PB Djarum melalui program beasiswa badminton. Ia menjadi atlet anak-anak kedua yang masuk PB Djarum setelah Liem Swie King.
Karirnya berkembang secara bertahap. Pada Kejurnas kelompok yunior 1975, Hastomo menjadi semifinalis tunggal dan runner-up ganda bersama Pranoto. Pencapaian tersebut semakin menguatkan keinginannya untuk menjadi atlet badminton.
Pada 1977, ia meraih juara Moenadi Cup tingkat Jawa Tengah dan terpilih dalam seleksi tim PON Jawa Tengah. Setahun kemudian, Hastomo meraih medali emas sektor beregu pada PON 1978.
Perjalanan menuju Pelatnas juga tidak langsung berhasil. Ia sempat gagal enam kali dalam seleksi sebelum akhirnya lolos pada kesempatan ketujuh pada 1979.
Pada tahun yang sama, Hastomo meraih medali emas SEA Games 1979 di Jakarta. Hadiah dari berbagai pertandingan yang dikumpulkan sedikit demi sedikit, ditambah bonus medali tersebut, kemudian digunakan untuk memenuhi keinginannya membelikan rumah bagi orang tua.

Karier internasional Hastomo sempat terhenti akibat hukuman setelah All England 1982. Saat berada di London, ia terserang flu dan mengkonsumsi obat. Ketika pemeriksaan doping, ia kesulitan menjelaskan obat yang diminumnya karena kendala bahasa.
Hastomo kemudian dinyatakan gagal tes doping dan mendapat hukuman tidak boleh bertanding selama satu tahun. Ia bahkan tidak dapat tampil ketika terpilih sebagai bagian dari tim Thomas Cup Indonesia.
Setelah kembali bertanding, performanya meningkat. Ia meraih runner-up Malaysia Open dan Indonesia Open, kemudian menjadi salah satu pemain tunggal Indonesia di Thomas Cup bersama Liem Swie King dan Icuk Sugiarto.
Salah satu pertandingan yang paling dikenang terjadi pada final Piala Thomas 1984 di Kuala Lumpur ketika Indonesia menghadapi China.
Hastomo bertemu Han Jian, pemain China yang sebelumnya tiga kali mengalahkannya. Kali itu, Hastomo berhasil memenangkan pertandingan. Indonesia akhirnya mengalahkan China dengan skor 3-2 dan merebut Piala Thomas.

Karier internasionalnya berakhir pada 1985 ketika ia pensiun dari Pelatnas. Setelah kembali ke klub, ia masih bermain dan turut mengantarkan klubnya menjadi juara Kejurnas Beregu pada 1988.
Hastomo kemudian menekuni profesi sebagai pelatih tunggal putra di Kudus. Ia tetap menjaga kebugaran melalui latihan fisik dan bersepeda. Pada 2015, ketika berusia di atas 55 tahun, ia meraih juara dunia kelompok veteran nomor tunggal putra.

Hastomo Arbi Badminton Sport Club diresmikan pada 10 Oktober 2013. Peresmian tersebut berlangsung bersamaan dengan pelaksanaan Program Pelatihan Nasional Shuttle Time Badminton World Federation (BWF) di Hastomo Arbi Badminton Sport Club, Kudus.
Sejak awal pengelolaan Hastomo Arbi Badminton Sport Club, arah pemanfaatan venue sudah dikaitkan dengan kegiatan pembinaan badminton, khususnya bagi anak-anak di Kudus.
“Penginnya dari awal memang menyalurkan pembibitan dari Kudus sendiri. Jadi arena untuk anak-anak ini sebagai sarana latihan,” ujar Teguh.

Saat ini, terdapat lima lapangan badminton yang seluruhnya menggunakan karpet. Lapangan tersebut menjadi fasilitas utama bagi pengguna yang datang untuk latihan maupun bermain.
Bagi pelatih PB Ngudi Berkah Kudus, Ellen Septiara Jasmine, kondisi lapangan menjadi salah satu pertimbangan dalam memilih Hastomo Arbi Badminton Sport Club sebagai tempat latihan.
Menurut Ellen, penggunaan karpet membuat lapangan terasa lebih nyaman ketika digunakan anak-anak. Permukaan lapangan juga menjadi pertimbangan ketika pemain melakukan gerakan selama latihan.

“Kalau di Hastomo kan sudah pakai karpet, jadi anak-anak lebih aman kalau misal jatuh atau apa. Lebih nyaman juga,” kata Ellen.
Selain latihan teknik, lapangan digunakan untuk berbagai bentuk kegiatan yang disesuaikan dengan kebutuhan pemain.

PB Ngudi Berkah menjadi salah satu klub yang menggunakan Hastomo Arbi Badminton Sport Club untuk kegiatan latihan. Anak-anak menjalani latihan secara rutin dengan materi yang tidak hanya berfokus pada permainan pertandingan.
Ellen menyebut beberapa bentuk latihan yang dilakukan di antaranya drilling, stroking, serta game atau sparring.
Drilling digunakan untuk melakukan gerakan atau pukulan secara berulang. Sementara stroking menjadi bagian dari latihan teknik pukulan. Setelah menjalani materi latihan, pemain juga dapat mengikuti permainan atau sparring untuk menerapkan kemampuan yang sudah dilatih.
Menurut Ellen, kondisi lapangan di Hastomo Arbi Badminton Sport Club cukup mendukung latihan teknik maupun fisik. Fasilitas tersebut juga dapat digunakan oleh pemain pemula hingga atlet yang sedang dipersiapkan mengikuti kompetisi.
Pilihan jenis latihan membuat penggunaan lapangan tidak terpaku pada satu bentuk kegiatan. Dalam satu sesi, anak-anak dapat menjalani latihan teknik sebelum kemudian bermain untuk menguji penerapannya.
Aktivitas tersebut berlangsung bergantian sesuai jadwal klub dan pengguna lapangan.

Pengguna Hastomo Arbi Badminton Sport Club berasal dari berbagai kelompok. Klub badminton memanfaatkan lapangan untuk latihan, sementara masyarakat umum dapat menggunakannya untuk bermain bersama teman atau komunitas.
Teguh menjelaskan, waktu pagi hingga sore lebih banyak digunakan untuk kegiatan pembibitan anak-anak. Pada malam hari, penggunaan lapangan didominasi orang dewasa, instansi, komunitas, dan penghobi badminton.
Pembagian waktu tersebut membuat suasana venue cukup berbeda sepanjang hari.
Pada sesi latihan anak, lapangan diisi pemain-pemain usia muda yang mengikuti arahan pelatih. Mereka melakukan pemanasan, latihan teknik, hingga permainan.
Pada malam hari, suasananya lebih banyak diisi kelompok yang datang untuk bermain bersama. Mereka dapat menggunakan lapangan sesuai jadwal yang telah dipesan.
Dengan pengguna yang beragam, Hastomo Arbi Badminton Sport Club memiliki fungsi sebagai tempat latihan sekaligus ruang bermain bagi masyarakat yang ingin beraktivitas dengan badminton.

Salah satu pengguna yang mengikuti latihan rutin di venue ini adalah Emir Dzaky Arkananta. Atlet PB Ngudi Berkah tersebut berusia 11 tahun dan mulai berlatih di Hastomo Arbi Badminton Sport Club sekitar Oktober 2025.
Emir datang hampir setiap hari, kecuali Jumat. Rutinitas itu membuatnya cukup akrab dengan suasana latihan di venue.
Bagi Emir, salah satu hal yang membuat latihan terasa menyenangkan adalah keberadaan teman-teman sebaya.
“Happy, soalnya ada teman banyak,” ujarnya.

Selain mengikuti latihan badminton, Emir juga menjalani latihan fisik. Salah satu perkembangan yang ia rasakan adalah kemampuan melakukan skipping.
Jika sebelumnya hanya mampu melakukan satu kali, kini ia sudah dapat melakukan double skipping. Perubahan tersebut menjadi bagian dari proses latihan yang dijalaninya bersama klub.
Penggunaan Hastomo Arbi Badminton Sport Club tidak terbatas pada klub yang menjalankan program pembinaan. Masyarakat umum juga dapat memesan lapangan untuk bermain.
Mekanisme penggunaannya relatif sederhana. Calon pengguna dapat menghubungi pengelola atau admin untuk menanyakan ketersediaan jadwal sebelum menggunakan lapangan.
Tarif penggunaan saat ini Rp40 ribu per jam untuk satu lapangan. Khusus Sabtu dan Minggu, tarifnya Rp50 ribu per jam.
Dengan sistem tersebut, masyarakat dapat menyesuaikan waktu bermain dengan jadwal yang tersedia. Sementara kegiatan klub dan pembinaan anak tetap dapat berlangsung berdasarkan waktu latihan masing-masing.
Jam penggunaan yang berbeda juga memungkinkan satu venue melayani kebutuhan pengguna yang tidak sama.
Anak-anak membutuhkan waktu untuk latihan terjadwal. Komunitas dan masyarakat umum biasanya memilih waktu yang lebih sesuai dengan kegiatan mereka, termasuk malam hari.
Penggunaan lapangan secara rutin tentu membutuhkan perawatan. Teguh mengatakan perawatan lapangan dan lampu selama ini masih ditangani oleh pihak pengelola.
Kondisi lapangan menjadi salah satu bagian yang diperhatikan karena digunakan oleh pemain dengan tingkat kemampuan berbeda. Lapangan harus dapat mendukung kegiatan latihan klub maupun permainan masyarakat umum.
Sementara untuk perlengkapan bermain seperti raket, pengguna umumnya membawa perlengkapan masing-masing.
Kebutuhan fasilitas pun tidak hanya berkaitan dengan lapangan. Kenyamanan pengguna juga dipengaruhi kondisi fasilitas penunjang yang tersedia di venue.
Dalam hal ini, masih terdapat masukan dari pengguna yang perlu diperhatikan.
Ellen menilai kondisi lapangan Hastomo Arbi Badminton Sport Club sudah cukup mendukung kegiatan latihan. Namun, ia memberikan catatan terkait kamar mandi perempuan.
Menurutnya, fasilitas tersebut masih perlu dibenahi. Ia juga melihat kebersihan fasilitas berkaitan dengan perilaku pengguna yang terkadang meninggalkan sampah atau membuat area menjadi kurang rapi setelah digunakan.
Emir juga menyebut toilet sebagai fasilitas yang menurutnya masih perlu ditingkatkan. Sementara untuk kondisi lapangan, ia menilai sudah cukup baik digunakan untuk latihan.
Catatan tersebut menunjukkan bahwa kenyamanan sebuah venue tidak hanya ditentukan oleh kondisi lapangan. Kebersihan dan perawatan fasilitas pendukung juga menjadi bagian dari pengalaman pengguna.
Pengelola dan pengguna memiliki peran masing-masing dalam menjaga kondisi fasilitas agar tetap dapat digunakan bersama.

Dengan lima lapangan berkarpet dan waktu penggunaan yang berlangsung dari pagi hingga malam, Hastomo Arbi Badminton Sport Club menjadi salah satu tempat yang digunakan untuk berbagai aktivitas badminton di Kudus.
Di satu sisi, venue ini digunakan klub untuk menjalankan latihan dan pembinaan pemain muda. Di sisi lain, lapangan terbuka bagi masyarakat yang ingin berolahraga, bermain bersama teman, maupun beraktivitas dalam komunitas.
Fungsi tersebut membuat satu venue melayani kebutuhan badminton yang berbeda. Pemain pemula dapat mengikuti latihan, atlet dapat menjalani program bersama klub, sementara masyarakat umum dapat menggunakan lapangan untuk menjaga kebugaran atau sekadar bermain.
Bagi Teguh, kegiatan pembinaan anak tetap menjadi salah satu bagian yang ingin terus didukung melalui keberadaan venue.
“Ya, mungkin sekadar sebagai penjembatan lah istilahnya. Mereka-mereka anak-anak yang mau melangkah, mau menyalurkan hobi,” katanya.
Bagi pelatih, keberadaan lapangan yang nyaman membantu menjaga rutinitas latihan. Bagi pemain muda seperti Emir, tempat latihan juga menjadi ruang untuk bertemu teman sekaligus menjalani proses meningkatkan kemampuan.
Sementara bagi masyarakat umum, akses penggunaan lapangan memberikan pilihan untuk berolahraga tanpa harus menjadi bagian dari klub.
Aktivitas yang berlangsung di Hastomo Arbi Badminton Sport Club pada akhirnya menunjukkan bagaimana sebuah venue badminton dapat digunakan untuk kebutuhan yang beragam. Lima lapangan di dalamnya menjadi tempat latihan klub, pembinaan anak, permainan komunitas, hingga aktivitas olahraga masyarakat.
Dari pagi ketika anak-anak mulai menjalani latihan hingga malam saat kelompok dewasa dan penghobi datang bermain, penggunaan venue terus berganti. Lapangan yang sama dipakai untuk tujuan berbeda, tetapi tetap dalam satu aktivitas: bermain dan berlatih badminton.
Di situlah Hastomo Arbi Badminton Sport Club menjalankan fungsinya sebagai venue olahraga yang mempertemukan kebutuhan latihan, pembinaan, dan permainan badminton bagi berbagai kalangan di Kudus. (OEB/mainkekudus)