


Para atlet diwajibkan mengikuti jadwal latihan sebanyak lima kali dalam sepekan. Jadwal padat ini berlaku secara konsisten, baik saat menjelang kejuaraan maupun pada periode jeda kompetisi. Melalui skema ini, persiapan menghadapi turnamen tidak perlu dimulai lagi dari nol. Ketika tanggal pertandingan semakin dekat, porsi latihan tinggal difokuskan pada pematangan strategi, pemantapan teknik, serta meningkatkan kesiapan fisik dan mental bertanding.
Mas’ud menambahkan bahwa rutinitas latihan ini juga membawa dampak positif bagi perkembangan karakter anak. Aktivitas fisik yang terukur membantu mengurangi ketergantungan anak pada penggunaan gawai (smartphone) secara berlebihan. Selain itu, kedisiplinan fisik dan mental yang dibentuk di arena dapat menjadi modal berharga bagi siswa yang bercita-cita melanjutkan karier ke akademi TNI maupun Polri. Namun, fokus utama ASK tetap pada pembentukan kebiasaan berlatih dan rasa tanggung jawab terhadap setiap proses yang dijalani.
Konsistensi pembinaan di ASK mulai membuahkan hasil nyata dalam berbagai ajang yang diikuti sejak 2024. Pencapaian paling menonjol tercatat pada Kejuaraan Nasional Silat Challenge Open yang berlangsung di Purbalingga pada 1–2 Agustus 2026. Turnamen berskala nasional ini diikuti oleh sekitar 500 peserta dari berbagai wilayah di Indonesia, termasuk Jawa Tengah, Aceh, dan Sumatra.
ASK menurunkan sebanyak 58 atlet pada ajang tersebut dan berhasil memboyong total 58 medali, dengan rincian 38 medali emas, 15 perak, dan 5 perunggu. Dari total 38 medali emas yang diraih, 18 emas disumbangkan oleh atlet tingkat SD, 16 emas dari tingkat SMP, dan 4 emas dari tingkat SMA.

Atas raihan dominan tersebut, ASK sukses menyabet gelar Juara Umum untuk kategori Usia Dini, Pra-Remaja, dan Remaja, serta mengamankan predikat Grand Champion 1 dan Juara 1 Favorit. Dua atlet ASK juga dinobatkan sebagai pemain terbaik, yaitu Edgar Ananda Sofyan (SD 1 Getaspejaten) untuk kategori usia dini putra dan Rajendra Rakha Rafi Abrar (SMP 2 Kudus) untuk kategori SMP putra.
“Alhamdulillah, kami sangat bangga dengan pencapaian anak-anak. Semoga prestasi ini bisa terus dipertahankan dan ditingkatkan,” tutur Mas’ud.
Bagi manajemen ASK, raihan medali bukan sekadar pajangan piala, melainkan parameter objektif untuk mengukur sejauh mana efektivitas program latihan yang telah dijalankan para atlet.

Hasil dari Kejuaraan di Purbalingga sekaligus dijadikan bahan evaluasi penting untuk menghadapi agenda besar berikutnya, yaitu Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) Jawa Tengah yang dijadwalkan berlangsung di Semarang pada awal September 2026.
“Kejuaraan ini kami jadikan sarana try out. Dari sini kami dapat menilai perkembangan atlet secara objektif, terutama dari sisi ketahanan mental bertanding dan penguasaan teknik, yang menjadi bahan perbaikan sebelum tampil di Popda,” terang Mas’ud.
Atmosfer pertandingan resmi memberikan tekanan dan pengalaman yang berbeda dibanding sesi latihan harian. Di arena laga, atlet dituntut menerapkan strategi bertanding, beradaptasi cepat terhadap pola serang lawan, serta menjaga fokus secara penuh. Dari dinamika tersebut, jajaran pelatih dapat mengidentifikasi kelebihan serta kelemahan teknik atlet yang perlu segera dibenahi dalam sesi latihan berikutnya.
Perjalanan para atlet di ASK sangat beragam. Tidak semua atlet mengenal pencak silat sejak usia dini. Reno Andika, misalnya, baru mulai menekuni pencak silat saat duduk di kelas 8 SMP atau sekitar usia 14–15 tahun. Motivasi awalnya cukup sederhana, yaitu mengisi waktu luang saat pembatasan aktivitas masa pandemi Covid-19.

Seiring berjalannya waktu, latihan yang rutin dijalani mengubah ketertarikan awal Reno menjadi komitmen penuh. Reno mulai diterjunkan ke berbagai turnamen, mulai dari kejuaraan tingkat daerah hingga kejurnas terbuka. Bertanding dengan lawan yang memiliki variasi teknik berbeda memberinya banyak pelajaran berharga tentang pentingnya ketahanan mental di luar penguasaan teknik dasar.
Meskipun terus mengukir prestasi di gelanggang silat, Reno tetap memiliki fokus masa depan yang jelas di bidang akademis.
“Cita-cita utama saya adalah menjadi seorang guru,” ungkapnya.
Kisah Reno mencerminkan bahwa pembinaan atlet tidak selalu bermula dari target menjadi juara. Ada yang memulai dari rasa penasaran, pencarian kegiatan positif, atau sekadar menjaga kesehatan fisik. Lewat proses latihan yang terstruktur, minat awal tersebut secara alami berkembang menjadi orientasi prestasi.

Keberadaan ASK turut memperkuat ekosistem pembinaan pencak silat di Kabupaten Kudus. Pengurus Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kabupaten Kudus memandang perguruan, klub, dan akademi swadaya sebagai pilar utama dalam proses regenerasi atlet secara berjenjang.
Ketua Umum IPSI Kabupaten Kudus, Muhammad Nur Hasyim, menegaskan bahwa pengembangan pencak silat prestasi kini telah terdistribusi secara inklusif di berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak, remaja, hingga tingkat dewasa.

“Pencak silat prestasi saat ini tidak lagi menjadi beban atau tanggung jawab Pengkab IPSI semata. Kehadiran perguruan dan akademi yang aktif mengambil peran secara mandiri sangat membantu percepatan pembinaan,” kata Hasyim.
Hasyim menekankan pentingnya keberlanjutan (sustainability) program pembinaan agar para atlet muda tidak berhenti di tengah jalan saat menghadapi kendala teknis maupun non-teknis. Sinergi antara program yang jelas, kepelatihan yang konsisten, dan komitmen lembaga menjadi kunci utama lahirnya atlet berkualitas.
“Yang terpenting pembinaan itu berjalan kontinu dan memiliki program yang terukur. Saya yakin Kudus akan terus melahirkan atlet-atlet silat terbaik di masa depan,” tegasnya.
Saat ini tercatat ada sekitar empat akademi dan kelompok pembinaan aktif di Kudus yang secara konsisten menyuplai calon atlet potensial bagi daerah. Banyaknya ruang latihan ini memperluas aksesibilitas anak-anak Kudus untuk mendalami olahraga bela diri sekaligus meniti karier sebagai atlet profesional.

Di luar pencapaian angka dan medali, pencak silat memiliki nilai kultural yang membedakannya dari cabang olahraga lain. Pencak silat mengintegrasikan empat elemen utama, yaitu olahraga, seni, bela diri, dan nilai budaya. Keempat aspek ini diinternalisasikan secara menyeluruh dalam setiap sesi latihan di ASK.
Para atlet tidak hanya dilatih melakukan serangan dan bertahan secara tepat, tetapi juga dididik untuk taat pada aturan, menghormati instruksi pelatih, menjunjung tinggi nilai sportivitas, serta menjaga etika bertanding di dalam maupun di luar arena.
Menurut Hasyim, penanaman nilai-nilai karakter ini sangat krusial dalam pembentukan kepribadian generasi muda. “Dengan jiwa yang sportif, tubuh yang sehat, dan pikiran yang positif, mereka secara otomatis akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik dan bermanfaat bagi masyarakat,” jelasnya.
Oleh karena itu, fungsi latihan silat melampaui sekat-sekat kompetisi. Bagi atlet usia dini, latihan menjadi sarana pengenalan budaya dan pembentukan disiplin. Bagi tingkat remaja, ajang tanding menjadi sarana menguji kematangan fisik dan mental. Sementara bagi atlet yang memilih menekuni jalan ini secara profesional, pengalaman di akademi menjadi pijakan untuk menembus kompetisi tingkat nasional maupun internasional.

Usai gelaran kejuaraan di Purbalingga, para atlet ASK langsung kembali ke arena latihan. Evaluasi dari pertandingan sebelumnya dijadikan materi perbaikan guna menghadapi tantangan kompetisi di depan mata.
Mas’ud menekankan kepada seluruh anak asuhnya bahwa kemenangan di satu ajang tidak menjamin hasil yang sama di ajang berikutnya tanpa adanya kerja keras yang konsisten. Pembenahan teknik dan penguatan fisik harus terus dilakukan secara berkesinambungan.
Keberadaan ASK menjadi bagian integral dari rantai pembinaan pencak silat di Kudus yang melibatkan kolaborasi antara atlet, pelatih, akademisi, orang tua, dan organisasi IPSI. Visi besar yang diusung tidak sekadar menambah koleksi medali, melainkan menjaga agar garis regenerasi atlet silat di Kudus tidak terputus.
Hasyim berharap ekosistem pencak silat di Kudus terus berkembang pesat hingga mampu mencetak atlet-atlet yang berprestasi di panggung dunia. “Harapan kami pencak silat Kudus makin dikenal di level internasional. Kudus tidak hanya dikenal sebagai kota industri, tetapi juga sebagai lumbung prestasi pencak silat,” harapnya.
Proses pembentukan atlet berprestasi membutuhkan waktu panjang dan komitmen tinggi. Di balik setiap atlet yang berdiri di podium juara, ada pengorbanan jam latihan yang panjang, pengulangan teknik yang tak terhitung jumlahnya, serta dukungan penuh dari lingkungan sekitar.
Di Akademi Silat Kudus, proses panjang itu terus dirawat setiap hari, dimulai dari penguasaan gerakan dasar hingga kesiapan berlaga di level tertinggi. Melalui konsistensi latihan yang terjaga, pencak silat terus hidup, berkembang sebagai cabang olahraga prestasi, dan lestari sebagai warisan budaya bangsa. (ITN/mainkekudus)