


Pada masa awal, keterbatasan anggaran membuat fasilitas latihan harus disiapkan secara mandiri.
Pasir hitam didatangkan dari wilayah Selalang, Kudus, untuk membuat lapangan. Perawatannya pun dilakukan sendiri oleh para pemain dan pengurus.
Ketika lapangan tidak digunakan selama beberapa hari, permukaan pasir dapat menjadi padat. Sebelum latihan, pemain harus menggunakan cangkul untuk menggemburkannya kembali agar bisa digunakan.
Dari lapangan sederhana tersebut, pembinaan berjalan. Kegiatan pada masa awal masih banyak diisi pertandingan antardesa sebelum para atlet mulai mengikuti kompetisi dengan tingkat persaingan yang lebih luas.
Saat ini, latihan berlangsung di Lapangan Voli SDN 1 Ngembalrejo. Tempat tersebut menjadi ruang latihan bagi atlet junior maupun senior sekaligus tempat calon atlet baru mengenal voli pantai.

Muchammad Fauzi Setiawan atau Wawan menjadi bagian dari pembinaan Ivojo sejak 2019. Sebelumnya, ia sudah terlibat dalam pembinaan daerah sejak 2017.
Menurut Wawan, voli pantai mempunyai tuntutan berbeda dibandingkan bola voli indoor.
Permukaan pasir membuat pergerakan atlet menjadi lebih berat. Langkah, lompatan, dan perubahan arah membutuhkan tenaga lebih besar karena pijakan tidak sekuat ketika bermain di lapangan keras.
Perbedaan lain terletak pada jumlah pemain. Dalam nomor 2×2, hanya dua atlet yang berada di lapangan sehingga masing-masing pemain dituntut memiliki kemampuan yang lebih lengkap.
Atlet tidak hanya belajar melakukan pukulan. Mereka perlu mampu menyerang dan bertahan, melakukan blocking, membaca arah bola, serta membangun komunikasi dengan pasangan.
Kemampuan fisik menjadi bagian penting dalam latihan karena seorang pemain harus terlibat dalam hampir seluruh fase permainan.
Bagi atlet yang sebelumnya bermain voli indoor, pola tersebut membutuhkan adaptasi. Mereka harus terbiasa bergerak di atas pasir sekaligus memahami permainan yang menuntut tanggung jawab lebih besar dari setiap individu.

Latihan rutin Ivojo berlangsung empat kali dalam sepekan.
Pada Senin, Rabu, dan Jumat, atlet berlatih setelah Asar selama sekitar dua hingga dua setengah jam. Sementara pada Sabtu, latihan dimulai pukul 08.00 dengan durasi sekitar tiga jam.
Program tersebut menjadi dasar pembinaan atlet. Ketika klub memasuki masa persiapan kejuaraan, porsi dan pola latihan dapat disesuaikan dengan kebutuhan pertandingan.
Selain teknik permainan, atlet menjalani latihan fisik, pergerakan di atas pasir, pertahanan, blocking, membaca permainan, hingga komunikasi dengan pasangan.
Bagi pemain muda, latihan rutin menjadi tahap untuk memahami karakter permainan sekaligus membangun kebiasaan berlatih sebelum masuk ke persiapan kompetisi.

Ivojo membuka kesempatan bagi anak-anak yang ingin mencoba bola voli pantai.
Proses bergabung cukup sederhana. Calon atlet dapat datang langsung ke lapangan ketika latihan berlangsung. Sebagian mengetahui kegiatan Ivojo dari saudara yang sudah lebih dahulu bergabung, sedangkan yang lain datang karena diajak teman atau mengetahui latihan secara langsung.
Tidak ada uang pendaftaran maupun biaya latihan. Atlet yang mengikuti kegiatan juga mendapatkan air minum yang disediakan selama latihan.
Dengan pola tersebut, anak-anak dapat datang, melihat latihan, kemudian mencoba mengikuti kegiatan sebelum memutuskan untuk berlatih secara rutin.
Seleksi khusus biasanya lebih banyak dilakukan ketika klub mulai mempersiapkan atlet untuk mengikuti sebuah kejuaraan.
Meskipun akses untuk bergabung terbuka, mendapatkan bibit baru secara konsisten masih menjadi salah satu persoalan yang dihadapi Ivojo.

Perjalanan Ivojo tidak hanya berlangsung di lapangan latihan.
Atlet binaan klub pernah meraih medali pada PON. Ada pula atlet yang memperkuat Timnas Indonesia hingga meraih medali perunggu dalam kejuaraan dunia di Qatar.
Pada Porprov 2023 di Rembang, Kudus meraih seluruh empat medali emas yang diperebutkan dalam nomor voli pantai, yakni 2×2 putra, 2×2 putri, 4×4 putra, dan 4×4 putri.
Ivojo juga pernah menyelenggarakan Kudus Open. Pesertanya datang dari enam provinsi dan satu peserta berasal dari Malaysia. Kejuaraan tersebut memberi kesempatan kepada atlet untuk menghadapi pemain dari berbagai daerah tanpa harus selalu bertanding di luar Kudus.
Pencapaian terbaru diraih pada Kejurnas Bola Voli Pantai U-17 2026 yang berlangsung pada 5–9 Agustus 2026 di Jakabaring Sport Complex, Palembang.
Dua atlet Kudus, M. Akbar Sya’bani dan Ficki Fisnanda, tampil membawa nama Jawa Tengah. Mereka meraih juara kedua nomor 2×2 putra dan juara pertama nomor 4×4 putra.
Salah satu atlet yang menjalani proses tersebut adalah Akbar, yang sebelumnya justru memulai perjalanan dari bola voli indoor.

Muhammad Akbar Sya’bani mengenal Ivojo ketika duduk di kelas tiga SMP, sekitar usia 14 tahun. Ia datang setelah diajak seorang teman mengikuti latihan.
Sebelumnya, Akbar bermain bola voli indoor bersama Berlian Muda Kudus.
Peralihan ke voli pantai membuatnya harus beradaptasi dengan permukaan pasir dan pola permainan dua orang. Tuntutan fisiknya juga berbeda.
Salah satu latihan yang diingat Akbar adalah ketika ia harus berlari tujuh putaran dalam waktu tertentu. Berlari di atas pasir membuat kaki lebih sulit bergerak sehingga latihan terasa lebih berat dibandingkan di lapangan keras.
Meski demikian, ia menikmati proses latihan, termasuk suasana bersama atlet lain.
Dari latihan rutin tersebut, pengalaman bertanding Akbar terus bertambah. Ia pernah menjadi runner-up Popnas di Jakarta, meraih posisi kedua dalam kompetisi di Sidoarjo, serta menjadi juara pertama pada kejuaraan nasional di Sidoarjo pada 2024.
Pengalaman itu menjadi bekal sebelum tampil pada Kejurnas Bola Voli Pantai U-17 di Palembang pada 5–9 Agustus 2026.
Bersama timnya, Akbar meraih juara pertama nomor 4×4 dan posisi kedua nomor 2×2.
Bagi Akbar, hasil tersebut menjadi pengalaman tersendiri karena untuk pertama kalinya ia meraih gelar juara pada Kejurnas U-17.
Kompetisi di Palembang juga mempertemukannya dengan atlet dari berbagai daerah. Ia harus menyesuaikan diri dengan kondisi pasir dan lingkungan pertandingan yang berbeda dari tempat latihan sehari-hari.
Setelah kejuaraan selesai, Akbar kembali menjalani latihan untuk mempertahankan sekaligus meningkatkan kemampuannya sebelum menghadapi pertandingan berikutnya.

Di tengah berbagai prestasi tersebut, regenerasi masih menjadi tantangan bagi Ivojo.
Saat ini sekitar 40 atlet dibina klub. Sekitar 20 merupakan atlet junior putra-putri dan sekitar 20 lainnya merupakan atlet senior.
Namun, calon atlet baru belum selalu datang dalam jumlah yang cukup untuk menjaga keberlanjutan pembinaan kelompok usia berikutnya.
Perekrutan masih banyak berasal dari lingkungan terdekat. Ada calon atlet yang bergabung karena memiliki saudara di Ivojo, diajak teman, maupun datang sendiri setelah mengetahui kegiatan latihan.
Kelompok putri menjadi salah satu bagian yang lebih sulit direkrut.
Latihan berlangsung di lapangan terbuka sehingga calon atlet harus terbiasa dengan panas matahari dan pasir. Kekhawatiran mengenai perubahan warna kulit juga menjadi salah satu pertimbangan sebagian calon atlet perempuan.
Ivojo berharap pengenalan bola voli pantai dapat diperluas melalui sekolah, terutama sekolah yang memiliki jurusan atau program olahraga.
Pengenalan sejak usia sekolah diharapkan dapat membuka jalur baru untuk menemukan calon atlet sekaligus memperkuat regenerasi.

Selain regenerasi, fasilitas menjadi bagian lain yang dipikirkan Ivojo untuk pengembangan ke depan.
Salah satu gagasan yang muncul adalah membangun fasilitas voli pantai di sekitar Waduk Logung, Kudus.
Kawasan tersebut diharapkan suatu saat dapat memiliki lapangan yang digunakan untuk latihan sekaligus pertandingan. Dengan fasilitas yang lebih memadai, atlet bisa mendapatkan ruang latihan sekaligus pengalaman kompetisi di Kudus.
Pengembangan fasilitas juga berkaitan dengan kebutuhan pembinaan atlet putri. Lapangan yang memiliki perlindungan lebih baik dari panas matahari menjadi salah satu hal yang diharapkan dapat menarik lebih banyak calon pemain perempuan.
Untuk saat ini, latihan tetap berlangsung di Lapangan Voli SDN 1 Ngembalrejo.

Hampir dua dekade sejak berdiri, Ivojo berkembang dari kelompok bola voli desa menjadi klub yang membina atlet voli pantai hingga berbagai tingkat kompetisi.
Perjalanannya dimulai dari ketertarikan Achsin Rois terhadap voli pantai, dilanjutkan dengan menyiapkan lapangan pasir secara mandiri, membangun pola latihan, hingga mengirimkan atlet ke sejumlah kejuaraan.
Akbar menjadi salah satu atlet yang tumbuh melalui proses tersebut. Ia datang setelah diajak teman ketika masih SMP, beradaptasi dari voli indoor menuju permainan di atas pasir, kemudian membawa nama Jawa Tengah di Kejurnas U-17.
Namun, keberlanjutan Ivojo tidak hanya bergantung pada satu atlet maupun satu hasil pertandingan.
Di Lapangan Voli SDN 1 Ngembalrejo, atlet junior dan senior masih menjalani latihan secara rutin. Ada yang sedang mempertahankan kemampuan, mempersiapkan kompetisi, maupun baru mulai mengenal permainan.
Tantangan berikutnya adalah memastikan generasi baru terus datang, proses pembinaan tetap berjalan, dan fasilitas dapat berkembang mengikuti kebutuhan atlet.
Kudus memang bukan daerah pesisir. Namun, dari sebuah lapangan pasir di Ngembalrejo, bola voli pantai tetap tumbuh dan menghasilkan atlet yang mampu bersaing di berbagai tingkat kompetisi. (DN/mainkekudus)