
9V49+9WM, Area Gn., Rahtawu, Kec. Gebog, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah 59333, Indonesia
Pilihan tersebut kemudian jatuh pada daging entog. Bahan yang tidak terlalu umum digunakan sebagai menu utama di warung makan itu mulai diolah menjadi rica-rica.
“Mulai awal jualan itu 2010, Mas. 2010. Nah saya kan pertama kali jualan di Wisata Rahtawu ini kan apa ya, gitu jualannya apa kayak gitu. Lah tercetus kok kayak Entog gitu ya. Kayak selain ayam itu apa. Nah, berinisiatif untuk jualan entog, Mas,” ujar Ngatri.
Memilih entog berarti harus memperhatikan proses pengolahan sejak awal. Daging entog memiliki tekstur yang berbeda dengan ayam dan membutuhkan pengolahan yang tepat agar tidak alot serta bau khasnya dapat berkurang. Karena itu, bumbu dan proses memasak menjadi bagian yang terus diperhatikan sejak usaha tersebut dimulai.
Ngatri tidak hanya menyerahkan proses tersebut kepada pekerja. Ia tetap terlibat dalam kegiatan di warung dan memberikan arahan kepada juru masak mengenai pengolahan serta takaran bumbu. Cara itu dipertahankan untuk menjaga agar rasa yang disajikan tidak berubah jauh dari satu waktu ke waktu lainnya.
Abdul Hamid menjadi salah satu orang yang menjalankan proses pengolahan rica-rica entog di dapur. Ia telah bertahun-tahun bekerja sebagai juru masak di warung tersebut. Menurut Hamid, proses memasak tidak dapat dilakukan terburu-buru karena bumbu perlu diberi waktu untuk meresap ke dalam daging.

“Paling utama itu di dalam perbumbuannya, Mas. Dari rempah-rempah sama untuk proses masaknya kita proses sedikit lebih lama biar agak meresap sampai dalam,” jelas Hamid.
Tahap awal dimulai dengan memotong daging entog. Daging kemudian direbus sekitar 30 hingga 40 menit menggunakan kayu bakar. Perebusan dilakukan bersama sejumlah rempah, antara lain kunyit, lengkuas, serai, dan daun salam.


Bahan-bahan tersebut digunakan dalam proses awal untuk membantu mengurangi bau khas daging entog. Setelah melalui perebusan, daging kemudian masuk ke tahap berikutnya, yakni pengolahan menjadi rica-rica.
Bumbu yang digunakan terdiri atas bawang merah, bawang putih, lengkuas, jahe, serai, dan daun jeruk. Setelah bumbu disiapkan, daging dimasak kembali hingga bumbu tercampur dan meresap. Satu kali proses pembuatan rica-rica membutuhkan waktu sekitar 15 menit.

Penggunaan kayu bakar pada proses perebusan juga menjadi bagian dari cara memasak yang diterapkan di dapur warung. Setelah seluruh proses selesai, daging disajikan bersama kuah berbumbu.

Rica-rica entog yang disajikan Warung Entog Mbak Ngatri memiliki tekstur berbeda dari rica-rica yang dibuat kering. Hidangan tersebut dibuat dengan kuah yang cukup kental atau nyemek, sehingga tampilannya lebih menyerupai olahan tongseng.
Bumbu menjadi bagian penting dalam sajian tersebut. Selain rempah-rempah yang digunakan pada proses memasak, warung ini menggunakan cabai rawit lokal yang disebut cabe rawit gading. Cabai tersebut memberikan rasa pedas pada hidangan.
Tingkat kepedasan yang digunakan untuk sajian standar dibuat cukup pedas agar dapat dinikmati oleh pengunjung dengan selera yang berbeda. Namun, pengunjung yang menginginkan rasa lebih pedas masih dapat meminta tambahan cabai ketika memesan.

Dalam satu hari biasa, warung dapat mengolah sekitar 10 hingga 15 ekor entog. Jumlah tersebut dapat meningkat menjadi sekitar 20 hingga 30 ekor ketika akhir pekan atau musim liburan.
Kondisi tersebut membuat proses persiapan bahan dan memasak menjadi kegiatan yang terus berlangsung selama warung beroperasi. Konsistensi pengolahan menjadi bagian yang dijaga karena menu rica-rica merupakan salah satu pilihan yang banyak dipesan pengunjung.
Menu utama di warung ini dibanderol Rp 30.000 per porsi. Selain rica-rica entog, tersedia entog goreng sambal hijau dengan harga yang sama. Pilihan tersebut dapat menjadi alternatif bagi pengunjung yang ingin menikmati entog dengan cara penyajian berbeda.
Pengunjung yang tidak mengkonsumsi daging entog juga dapat memilih menu ayam goreng atau olahan ikan. Sementara itu, sejumlah sayuran seperti tumis kangkung, daun pepaya, dan petai tersedia sebagai pelengkap.
Untuk camilan, terdapat gorengan dan getuk. Minuman yang disediakan antara lain es teh, sedangkan pengunjung juga dapat memesan kopi lokal yang menggunakan hasil dari petani di kawasan Rahtawu.
Dengan pilihan tersebut, pengunjung tidak harus datang hanya untuk menikmati satu menu. Makanan utama dapat dipadukan dengan sayuran, camilan, dan minuman sesuai kebutuhan.

Pengunjung Warung Entog Mbak Ngatri dapat memilih tempat untuk menikmati makanan, baik di area dalam warung maupun saung yang tersedia untuk makan bersama. Jika kondisi cuaca mendukung dan debit air sungai dalam keadaan aman, area di sekitar aliran sungai juga dapat menjadi pilihan. Lokasi warung yang berada di kawasan lereng membuat pengunjung dapat menikmati makanan dengan suasana aliran sungai dan perbukitan di sekitarnya.
Warung Entog Mbak Ngatri buka setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 18.00 WIB. Waktu kunjungan dapat disesuaikan dengan rencana perjalanan menuju kawasan Rahtawu. Pagi hari dapat dipilih untuk makan sebelum melanjutkan perjalanan, sedangkan sore hari dapat menjadi pilihan bagi pengunjung yang ingin menikmati suasana kawasan lereng dengan kondisi yang cenderung lebih sejuk. Waktu makan siang biasanya lebih ramai sehingga pengunjung yang datang bersama rombongan dapat melakukan pemesanan lebih awal.
Selain tempat makan, tersedia fasilitas pendukung berupa area parkir untuk kendaraan roda dua dan roda empat, toilet, serta musala. Pembayaran dapat dilakukan secara tunai maupun melalui QRIS. Makanan juga dapat dibawa pulang atau dipesan terlebih dahulu untuk kebutuhan rombongan, seperti acara keluarga dan rapat, serta tersedia layanan antar.

Saat memesan, pengunjung dapat menyampaikan tingkat kepedasan yang diinginkan. Sajian standar memiliki rasa pedas yang cukup terasa, sedangkan tambahan cabai dapat diminta bagi pengunjung yang menyukai tingkat kepedasan lebih tinggi.

Keberadaan Warung Entog Mbak Ngatri tidak hanya diketahui oleh warga sekitar. Informasi mengenai tempat makan tersebut juga menyebar melalui media sosial dan menjadi alasan sejumlah pengunjung dari luar Kudus untuk datang.
Zaidi, salah seorang pengunjung asal Kabupaten Demak, datang setelah melihat informasi mengenai rica-rica entog tersebut di media sosial. Rasa penasaran kemudian membawanya menuju Rahtawu untuk mencoba langsung menu yang sebelumnya ia lihat secara daring.
“Ya awalnya kan penasaran lihat di sosmed kan, terus pengin nyoba, akhirnya datang kesini dan pesan menu rica-rica entog tersebut. Rasanya enak ya, ini rempahnya terasa banget, terus dagingnya empuk, meskipun ini entog jadi nggak alot,” kata Zaidi.

Menurut Zaidi, tekstur daging menjadi salah satu hal yang ia perhatikan setelah mencicipinya. Ia juga merasakan bumbu rempah pada daging yang disajikan.
Harga menjadi pertimbangan lain bagi pengunjung. Dengan harga Rp30.000 per porsi, menu rica-rica entog dapat menjadi salah satu pilihan makan bagi wisatawan yang sedang berkunjung ke kawasan Rahtawu.

Menikmati rica-rica entog di Warung Mbak Ngatri pada akhirnya dapat ditempatkan sebagai bagian dari perjalanan menuju kawasan wisata Rahtawu. Pengunjung tidak hanya datang untuk makan, tetapi juga dapat menikmati suasana kawasan lereng Muria sebelum atau setelah melanjutkan perjalanan.
Bagi wisatawan yang baru pertama kali datang, informasi mengenai jam buka, pilihan menu, tingkat kepedasan, dan sistem pemesanan dapat membantu menentukan waktu kunjungan. Pilihan tempat duduk juga dapat disesuaikan dengan kondisi cuaca dan jumlah rombongan.
Warung yang dirintis sejak 2010 tersebut memperlihatkan bagaimana satu jenis bahan makanan dapat dikembangkan menjadi menu yang bertahan dalam perjalanan sebuah usaha kuliner. Entog yang dahulu dipilih sebagai alternatif dari menu ayam kemudian menjadi sajian utama yang terus dipertahankan melalui proses pengolahan, racikan bumbu, dan keterlibatan langsung dalam kegiatan dapur.
Bagi wisatawan yang melintasi Desa Rahtawu menuju kawasan Puncak Songolikur, rica-rica entog Mbak Ngatri dapat menjadi salah satu pilihan kuliner untuk melengkapi perjalanan. Semangkuk rica-rica dengan daging entog, kuah nyemek, dan bumbu rempah dapat dinikmati sebelum pengunjung kembali melanjutkan aktivitas di kawasan lereng Muria. (JMY/mainkekudus)